Lelaki Bermata Kabut

lelaki bermata kabut

Ia datang entah dari mana. Saat aku membuka pintu pertama kali di pagi itu, aku terkejut, melihatnya sedang duduk di atas bangku bambu di teras rumahku. aku tak tahu kapan ia datang.  Kepalanya yang menunduk itu, di atasnya ia kenakan tangkulok warna hitam seperti tangkulok yang dipakai para Sultan Aceh dahulu kala, yang kubaca dalam buku Hikayat Sultan-Sultan Aceh. Kedua tangannya ia taruh di atas kedua lututnya. Kedua lengannya yang panjang seolah membentuk sayap elang yang hendak terbang ke awan tinggi. Angin pagi yang dingin, tak membuat tubuhnya menggigil, bajunya terbuka menampakkan bidang dadanya yang ditumbuhi bulu tebal. Tak Sekali-kali aku bisa melihat wajahnya, bagaimana rupa laki-laki yang terasa ganjil bagiku. Aku hanya bisa melihat pipinya dari samping. Begitu pula badannya yang kekar. Kuterka ia adalah seorang pemuda, yang memiliki wajah tampan. Entah setampan apa wajah itu.

Aku sudah lama berdiri di pintu rumahku, memegang sapu. Namun niat hendak menyapu teras, begitu saja terurungkan, ketika kulihat laki-laki itu.

Aku bisa menduga, dari pakaian dan rambutnya yang kusut, bahwa ia datang dari jauh, bukanlah salah seorang warga sekitar kampungku. Diam-diam hatiku menciut rasa takut dan gelisah dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu.

Aku mendehem, segala cara dan gerakan yang kubuat-buat untuk menimbulkan suara, mencari perhatiannya, tubuh itu tetap tak bergeming. Tubuhnya seolah telah membatu.

“Mala, kamu di mana?” seru ibuku dari dapur.

Aku tak menjawab, tapi segera menemui ibuku yang sedang menanak nasi di dapur, sambil menjinjing sapu di tanganku.

“Ada apa, Bu?”

“Tidak apa-apa. Ibu pikir kamu sudah pergi ke mana!” ujarnya, sembari tersenyum. Tangan kanannya terus meremas beras dalam panci. Kemudian, setelah beras itu dibilas dengan air yang kedua kali, ibu menaruh panci yang berisi beras itu di atas tangku yang terbuat dari tanah liat. Perlahan, ia susun kayu bakar di bawahnya dan menyulut api dari lampu teplok yang sepagi ini belum dipadamkan. Ibu selalu melakukannya demikian, untuk menghemat biji korek api. Bahkan sampai semua yang hendak ia masak selesai, lampu teplok yang terbuat dari kaleng bekas itu baru ia padamkan.

Aku tak mengerti, kenapa ibu masih rajin seperti itu, memasak dengan kayu bakar. Pada hal di rumah kami ada dua kompor minyak tanah. Untuk memasak nasi, ibu juga sudah membelikan alat pemasak listrik. Tapi digunakan hanya sesekali jika rumah kami didatangi tamu, atau jika aku yang memasaknya. Walaupun beliau mengatakan bahwa nasi yang dimasak dengan kayu bakar itu lebih enak, tapi menurutku tidak ada perbedaannya dengan yang lain. Rasanya tetap sama saja pada lidahku.

“Saya mau menyapu dulu, Bu?” lalu ujarku, sambil menatapnya. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan, atau sekadar memberitahu tentang kehadiran laki-laki itu, tapi tiba-tiba saja mulutku enggan mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Mulutku seolah terkunci. Mulutku terkatup hanya untuk membicarakan mengenai laki-laki itu. Tapi aku menguap atau menggerak-gerakkannya, mulutku seperti biasa, bisa kugerakkan sesuka hatiku.

“Ya!”  sahut ibuku.

Kemudian aku kembali ke depan hendak menyapu, sekaligus hendak mengetahui apakah laki-laki itu masih berada di sana? Namun, “Oh!” desahku, laki-laki itu telah pergi, seperti angin pagi telah membawanya melalang buana raya. Pada hal mulanya aku ingin memberinya sarapan pagi dan secangkir teh, pengganjal perutnya yang masih kosong, jika ia masih berada di sini.

Pikirku bertambah bimbang saat kulihat di bangku bambu itu, di mana, tadi ia duduk di situ, terletak sekuntum bungong jeumpa yang harumnya menyengat hidungku. Bulu kudukku merinding, sebab bunga itu sudah amat langka di kampung kami. Aku mengenal bahwa itu bungong jeumpa, ketika SMA dulu, seorang guru Biologi memperkenalkan kepada kami beberapa jenis bunga langka. Ia mendapat entah dari mana sehingga ia perkenalkan bahwa bunga itu salah satu jenis bunga kebanggaan orang Aceh, sekaligus perlambangan bagi gadis-gadis Aceh tempo dulu, entah bagaimanakah sekarang?

Guru itu pula mengatakan, bahwa bungong jeumpa sering digunakan oleh dukun untuk ritual pasiennya, yang memerlukan mandi ie mawoe, sebagai suatu hajatan agar terlepas dari kemudharatan atau kemalangan yang tertimpa bagi diri pasien itu.

Mengingat hal itu, tiba-tiba tubuhku gemetaran. Jangan-jangan, laki-laki itu yang membawanya kemari agar hatiku terpikat padanya. Tapi, di mana dia mengenalku? Ah, tidak! Aku pun tak pernah melihat dan bertemu dengannya. Dia tidak mungkin berbuat hal seperti itu. Zaman sekarang sudah modern, masalah cinta tak mungkin lagi dipaksa. Kata pujangga, kini bukanlah zaman Siti Nurbaya, cinta tak dapat dipaksa-paksa.

Namun diriku tak kuasa melepas godaan agar tak mendekati bunga itu. Ada saja naluriku yang terhentak-hentak, kakiku seolah ada yang menuntunnya ke sana, berdiri di samping bangku. Dan demikian pula tanganku, bergerak tanpa kehendak, mengambil sekuntum bungong jeumpa dan kubawa masuk ke dalam kamar. Kuletakkan dalam lemari di antara susunan bajuku.

“Mala? Kalau sudah siap menyapu, ke mari sebentar,” seru ibuku lagi.

Aku segera keluar dari kamar dan perlahan menyapu teras. “Belum, Bu?” jawabku.

Memang, saat-saat libur setelah ujian final seperti sekarang, pagi-pagi aku menyapu teras dan halaman rumah. Kemudian aku mencuci piring dan pakaian di sungai, bersama teman-temanku, yang terletak kira-kira dua ratus meter di selatan rumahku. Setelah sarapan, aku baru ikut ibu ke ladang yang berisi pinang, kelapa, dan pohon cokelat. Kami pulang menjelang siang.

***

bunga

“Mala…Mala…! Bangun, Nak. Hari sudah siang.” kudengar ibu memanggilku dari luar kamarku. Dan mengetuk-ngetuk pintu, pelan.

“Iya, Bu,” jawabku, sambil menguap. Tapi badanku berat sekali untuk bangkit. Ada rasa kantuk yang masih menyerangku. Sehingga aku hanya duduk di tepi ranjang. Kudengar derap kaki ibu menjauhi pintu kamarku. Kuterka bahwa ia pergi ke dapur. Lalu kuhempas tubuhku yang mulai panas, aku seperti terserang demam. Tiba-tiba aku ingat mimpi semalam yang sangat menyeramkan. Seorang laki-laki, kuterka bahwa dia laki-laki yang datang ke rumahku pada pagi kemarin. Ia memperkenalkan diri padaku bernama Syah Johan, suami pertama Putroe Neng, yang terbunuh pada malam pengantin, saat pertama kali tidur dengan sang Putroe.

Sejenak aku berpikir, mimpi itu sangat aneh. Dan aneh jika terus kubayangkan. Sebab selanjutnya, setelah ia memperkenalkan diri padaku, menghilang dari hadapanku yang sedang duduk di atas sebuah bangku kayu di bawah sebatang pohon jeumpa yang rindang. Bagai sebuah layar lebar terbuka di hadapanku. Di situ kulihat adegan keseluruhan siapa sesungguhnya laki-laki itu dan Putroe Neng. Baru pertama kali ini aku melihat seorang perempuan yang rupawan. Wajahnya, kuumpamakan selembar daun sirih yang masih segar. Alisnya kecil dan tertata rapi bagai maha karya yang hebat. Matanya sipit dan indah. Seolah bola mata putih dan hitamnya itu terpisah. Rambutnya panjang terurai sampai tumit. Sehingga begitu serasi dengan tubuhnya yang langsing, tidak terlalu tinggi. Pakaiannya yang berwarna biru muda, selembar syal ia kenakan di lehernya, menambah keanggunan sang Putroe.  Aku terpesona menatapnya. Ia tersenyum padaku, walaupun aku berada di luar layar lebar itu. Tak lama kemudian ia menghilang dari tatapanku.

Dari luar, kudengar ibu mengetuk pintu. Tanpa diiringi panggilan. Kemudian aku bangkit. Dengan langkah gontai dan tubuhku terhuyung-huyung, aku membuka pintu.

“Kamu sakit?” tanya ibu saat ia melihatku sudah berada di depannya.

“Cuma demam, Bu,” balasku pelan.

“Ayo makan dulu. Sekarang Ibu beli obatnya,” jawab ibu.

Ketika aku membuka tutup hidangan yang terbuat dari rotan, di bawahnya ibu menaruh semangkok nasi dan lauk pauk, entah kenapa aku tak punya selera makan. Pada hal dari kemarin sore tak ada secuil makanan pun yang terisi ke perutku. Lagi pula, pagi ini ibu membuat lauk pauk kesukaanku; terung disambal dengan terasi, dan ikan mujair. Aku hanya duduk menatap kesemua hidangan itu di hadapanku, tak ingin menyentuhnya sedikit pun.

Beberapa lama kemudian, ibu pulang dari warung, membawa obat untukku.

“Kok belum makan? Kalau minum obat harus makan dulu,” ujar ibu.

Aku diam, tak menyahutnya sepatah kata pun.

“Nanti badanmu tambah demam, Mala?” lanjut ibu.

“Apa kamu mau Ibu suapin?” tanya ibu lagi.

Aku menggeleng. “Tak usah, Bu.” ujarku.

“Ya sudah. Kalau begitu makanlah sedikit agar perutmu tidak kosong. Ibu khawatir, nanti kamu terserang mag.”

“Iya,” aku mengangguk.

Setelah makan sedikit, sebagaimana anjuran ibu, aku minum tablet demam yang dibelikannya. Kemudian aku kembali ke kamar. Di sana, sebenarnya aku ingin tidur, mataku tak kunjung terpejamkan. Pikiranku melayang-layang entah ke mana. Terutama mengenai mimpiku semalam yang aneh itu, yang membuatku terbangun di tengah malam dan lama tidak tertidur. Mataku baru terpejam mungkin menjelang subuh. Mungkin pula, inilah penyebab demam badanku, karena kurang tidur.

***

 

Pagi itu, baru saja mataku terpejam, antara tidur dan terjaga, aku melihat laki-laki itu mendatangiku. Kali ini ia memakai pakaian kebesaranya sebagai seorang raja, yang dikawal oleh beberapa pengawalnya yang gagah perkasa. Di tangan mereka sebelah pedang yang terhunus tajam. Cahayanya berkilauan, sampai-sampai mataku silau memandangnya. Laki-laki itu memanggilku, “Putroe, kemarilah. Aku sangat merindukanmu.” Namun aku tetap saja bingung, tak percaya yang dikatakannya.

“Tidak! Aku bukan Putroe yang kumaksudkan,” sahutku.

“Iya. Kau Putroe, istriku!” ujarnya, setengah membentak.

Saat itulah aku melihat matanya, yang tanpa bola mata hitam, memelototiku. Serta merta kabut menyembul keluar dari matanya yang berubah menjadi lembah kabut, hingga mengaburkan pandanganku. Bahkan seluruh alam ini dipenuhi kabut. Aku tak mampu lagi melihat tubuhku sendiri. Kini aku seolah tanpa raga. Hanya jantungku yang senantiasa berdegup kencang, tanda kehidupan yang masih kumiliki.

Beberapa lama kemudian, pandangan aneh dan ganjil itu menghilang. Aku pun terjaga dari tidurku. Tapi aku bukan bermimpi, namun bukan pula dunia nyata. Buktinya, aku berada dalam kamar. Bukan pada sebuah taman yang dipenuhi pohon bungong jeumpa yang kemudian datang kabut tebal dari mata lelaki itu, sebagaimana yang baru saja kualami. Oh, aku bingung. Akalku tak bisa menerimanya. Aku benar-benar tak mampu menalarinya dengan akal sehat. Kecuali aku harus memaksa untuk menerima, tanpa pikir panjang.

Hari-hari berikutnya, keadaanku bertambah tidak menentu. Sesekali aku ingin pergi jauh, menghilangkan jejak dari rumahku. Namun sesekali aku sadar, di mana, semua yang kualami itu hanya pengaruh godaan iblis, pikirku. Berarti godaan ini begitu berat bagiku. Aku bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang membuat diriku seperti ini.

***

 

Aku tak tahu bagaimana hal ini kusampaikan pada ibu. Walaupun ia sangat memanjakanku, aku agak rikuh menyampaikannya. Karena ada sesuatu yang utama yang sangat pula kupertimbangkan; menjaga jarak jauh untuk menyampaikan sesuatu mengenai laki-laki. Prinsipku, mungkin aku masih dianggap gadis kampung yang kolot dan tidak mengikuti zaman modern, perkara anak muda dan segala perniknya sangat tidak sopan diceritakan pada orangtua. Aku malu. Walaupun kini umurku sudah memasuki sembilan belas tahun. Bahkan sampai saat ini belum pernah menjalin hubungan pertemanan dengan laki-laki, apa lagi yang namanya pacaran. Sungguh memalukan, pikirku. Karena aku belum siap menikah sebelum menyelesaikan kuliah terlebih dahulu, yang kini aku semester dua.

Namun jika aku terus begini, akan berakhir fatal. Bisa-bisa aku jatuh sakit bila terus dihantui mimpi aneh itu. Lagi pula bukan lagi persoalan cinta, yang sebelumnya kuduga. Kini duniaku yang telah dirasuki hawa jahat makhluk iblis.

Sore itu, setelah shalat Ashar, aku duduk di serambi depan sambil menjahit baju tidurku yang sobek pada bagian ketiaknya. Tapi pikiranku belum luput dari ingatan lelaki bermata kabut, sehingga ujung jarum yang tajam dan runcing itu mengenai ujung telunjuk tangan kiriku dan berdarah. Aku meringis kesakitan. Lalu aku masuk ke dalam kamar dan kuhempas tubuh di atas pembaringan.

“Sebenarnya, kamu kenapa melamun terus begini, Mala?” kata ibu, saat ia masuk ke kamarku tiba-tiba. Aku tersentak kaget, dan bangkit. Duduk di atas di tepi ranjang sembari menatapnya.

“Tidak apa-apa, Bu?” sahutku.

“Kamu jangan membohongi ibu. Ibu tahu dari keadaanmu bahwa kamu menyimpan sesuatu dan menyembunyikannya dari ibu. Iya, kan?”

Aku tak menjawab, membiarkannya duduk di dekatku. Bahunya hampir menyentuh bahuku. Lalu ibu merangkulku. Bahkan seperti ingin mendekapku dengan erat. Aku tetap saja diam dan tak bergeming dari tempat dudukku di tepi ranjang. Sekali lagi, kubiarkan ia membelai rambutku yang panjang melewati bahu.

“Sebenarnya Kamu kenapa, Anakku?” tanyanya lagi, “Ibu khawatir, kalau begini terus, kamu nanti sakit.”

“Apakah Putroe Neng itu benar-benar ada, Bu?” tanyaku tiba-tiba, yang membuatnya kaget bukan kepalang, sembari menatap wajahku dalam-dalam.

“Iya, memangnya kenapa?” tukasnya, sambil melepaskan tangannya dari bahuku. Dan aku merebahkan tubuhku ke pangkuannya.

Kemudian aku menceritakannya pada ibu sebagaimana yang telah kualami. Dari kedatangan laki-laki itu dan bungong jeumpa, sampai mimpi yang selalu menghantuiku.

“Dulu, ketika Ibu berusia sepuluh tahun. Kakekmu sering menceritakan Haba Jameun dan salah satu dari cerita itu adalah Putroe Neng. Katanya, dia seorang panglima perempuan yang berasal dari Cina. Datang ke Aceh bersama seribu tentara yang gagah perkasa. Tapi, malang ia bersama tentaranya kalah melawan Bala tentara Kerajaan yang jauh lebih banyak dari mereka. Karena dia seorang perempuan yag sangat cantik, akhirnya dipersunting oleh Syah Johan; sultan pertama Kerajaan Aceh Darussalam dan masuk Islam. Tapi sayang, Sultan mati pada malam pertama karena terserang racun dari tubuh Putroe Neng. Bahkan, kemudian Putroe dinikahi oleh sembilan puluh delapan laki-laki yang juga mati pada malam pertama akibat yang sama terjadi pada Syah Johan. Konon, hanya Syeikh Hudam; suaminya yang keseratus, yang selamat dan menjadi pendamping hidupnya sampai ajal.”

“Kenapa begitu, Bu?” tanyaku, heran.

“Karena sebelum mereka tidur, Syeikh Hudam yang juga seorang alim yang berasal dari tanah Arab, mengeluarkan racun dari tubuh Putroe.” jelas ibu.

Tubuhku gemetaran. Bukan mengenai Putroe Neng yang membuatku ketakutan. Tapi Syah Johan. Ya, Syah Johan yang datang pada pagi itu ke rumahku. Berarti itu ruh Syah Johan yang kini gentayangan, menghantuiku.

“Kenapa melamun?” tanya ibu.

“Tidak..tidak apa-apa, Bu?” sahutku pelan.

“Apakah kamu takut?”

Aku mengangguk. Tiba-tiba mataku basah, menetes air bening mengenai lengan ibuku.

“Apakah bungong jeumpa itu masih kamu simpan?”

“Iya,” aku mengangguk.

“Ambillah, biar Ibu berikan pada Teungku Saleh untuk dirajah.”

Lalu aku bangkit, mengambil bungong jeumpa di lemariku dan menyerahkannya pada ibu.

***

air mata

Setelah ibu datang ke rumah Teungku Saleh dan meminta air rajahan untuk kuminum, laki-laki bermata kabut itu hilang di ingatanku. Benar-benar aku sudah melupakannya. Kata Teungku Saleh pada ibuku, sosok laki-laki itu bukanlah Syah Johan sebagaimana yang ia perkenalkan padaku dalam mimpi itu. Syah Johan itu orang baik, ruhnya takkan pernah gentayangan. Katanya lagi, aku diganggu iblis karena sering melamun, bisa jadi pula aku jarang berzikir. Bukan tidak mungkin jiwa yang kosong itu diganggu iblis. Kini banyak bukti yang terjadi dalam kehidupan manusia. Setiap hari kita membaca media, para remaja ditangkap karena terbukti mengkonsumsi Narkoba, yang akhirnya membawa mereka ke penjara. Memang benar kata pepatah; pikirku dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.

“Mala, ingatlah, bahwa semua yang Kamu alami ini menjadi pelajaran berharga bagimu kelak. Teungku Saleh menganjurkanmu untuk banyak berzikir. Ingatlah bahwa kita punya agama, semua prilaku itu telah diatur dalam agama yang kita anut. Begitu pula kita sebagai muslimah, harus menjaga diri dari segala hal yang membinasakan keyakinan kepada Allah. Jadikanlah panutan kita itu Rasul dan orang-orang shaleh. Bukan pada orang-orang yang tidak berakhlak mulia,” jelas ibu padaku.

Aku mengangguk. Tak terasa airmataku menetes, basahi pipi. Lalu aku memeluk ibu, erat. Kini perasaanku semakin damai berada dalam pelukan perempuan yang telah  melahirkanku sembilan belas tahun silam itu. Tak terasa, angin pagi yang berhembus dari jendela kamarku yang sedikit terbuka itu membelai tubuh kami. (*)

***

 

Penulis: Mahdi Idris

Catatan

Tangkulok: Mahkota Raja

Bungong Jeumpa: Bunga Khas Aceh

Ie Mawoe: Air Mawar

Putroe: Putri

*) Mahdi Idris lahir di Aceh  Utara. Menulis cerpen dan puisi, dimuat di beberapa media lokal dan nasional. Kumpulan puisinya Nyanyian Rimba memenangkan juara II pada sayembara Puskurbuk Kemendiknas 2011. Kini menetap di Tanah Luas Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam.

You might like