Berita  

Bahan pengikat pada metode granulasi basah dapat juga berfungsi untuk memperbaiki

banner 120x600
banner 468x60


Dhafi Quiz

Find Answers To Your Multiple Choice Questions (MCQ) Easily at cp.dhafi.link. with Accurate Answer. >>

Ini adalah Daftar Pilihan Jawaban yang Tersedia :

  1. tempo
  2. ciri arah
  3. kompressibilitas
  4. kekejaman

Klik Untuk Melihat Jawaban

Kuis Dhafi Merupakan lokasi bimbingan kursus online untuk meletakkan donasi karena penangkapan pada cantrik yang semula bertingkat martabat kursus. memfaalkan bakal dapat berlebih ringan mengalami tangkisan pangkal komplikasi aduk instansi.
Kami berwarung untuk mengundang tentamen Ensiklopedia yang efisien agih cantrik. Semua alat aduk kawula 100% Gratis untuk . Semoga Situs Kami Bisa Bermanfaat Bagi . Terima hadiah mutakadim berjamu.

GudangIlmuFarmasi – Eksipien membangun entitas hanya bagian yang ditambahkan bertingkat formulasi tunggal bekal untu pelbagai domisili karena arti. Eksipien berwenang kontribusi yang esensial bertingkat formulasi biji dan sedia satupun bagian yang dapat abadi dikempa biji tan- bercita-cita eksipien (Sulaiman, 2007).

Kegunaan Eksipien

Pada biasanya, kreasi bekal komplet terdiri pangkal bagian karena eksipien. Fungsi eksipien bertingkat bekal komplet menjumpai anwar (2012) adalah laksana kemudian:

Bahan penokok pada bekal asak khususnya biji, yang berfungsi untuk melebarkan atau agregat moga melengkapi kelas agregat bauran sehingga dapat dikompresi/dicetak. Selain itu, entitas penokok pada kapsul berfungsi untuk mengasak kapsul yang digunakan. Bahan penokok juga berfungsi untuk melegalkan kritis bekal yang bakal diproduksi, karena memperbaiki geladir arah agregat sehingga ringan dikempa.

Pemilihan entitas penokok mesti bernala-nala syarat-syarat eksipien yang menabiri inert, betah macam diri karena , khali mulaisejak patogen pengacau karena pathogen, mendukng bioavailabilitas, mustaid bertingkat karena harkat aib.

Bahan pengikat membangun eksipien yang digunakan bertingkat formulasi bekal biji yang meletakkan akal kohesif yang memadai pada duli antar eksipien sehingga melaksanakan arsitektur biji yang karena berpengalaman penyegelan. Bahan pengikat bisajadi menjegal dekadensi biji ataupun pantat bagian untuk diabsorbsi. Bahan ini dapat ditambahkan bertingkat airmuka kolor, laksa (mucilago), enceranadonan atau adonan.

Penggunaan binder bertingkat kelas yang tepat bakal memicu pelbagai problem, ketika jumlahnya garib bertingkat biji bakal membawa capping, lamination, sticking, picking karena filming. Namun ketika penggunaannya kelewat dapat melebarkan kekejaman biji yang memicu biji sengsara .

  1. Bahan Penghancur (Disintegrant)

Disintegran membangun eksipien yang berfungsi untuk memfasilitasi hancurnya biji misalnya sampai hubungan bertingkat ajang cair. Disintegran berbuat berlebih kabur larutan berseliweran bertingkat biji, mekar karena membawa biji rabit bagian-bagian hina.

Ada sejumlah bahari disintegran, yakni:

  1. Swelling: Masuknya larutan berseliweran bertingkat biji membawa disintegrant mekar karena diseluruh zamanambang biji memicu blok bertingkat biji bakal rabit. Sejumlah disintegrant bakal  mekar mendarat periode stadium unik, saja swelling atau mekar bukanlah menkanisme satu mulaisejak secorak disintegrant.
  2. Heat of Wetting: disintegran ketika terbasahi larutan atau kelembaban membuahkan mendesak efek jawaban. Panas membawa yang terpancing bertingkat biji berjalan menambah dayatampung yang membuahkan gaya cendayam pada granul sehingga biji rabit/.
  3. Deformation Recovery: Partikel disintegrant bakal airmuka waktu dikempa biji. Pada waktu sedia humiditas, disintegrant bakal olak berseliweran airmuka sedang, sehingga bakal merubah airmuka (perubahan) mulaisejak biji, sehingga biji rabit.
  4. Repulsion Theory: masuknya larutan macam kapiler berseliweran bertingkat biji membawa rusaknya blok hydrogen sehingga blok adhesif ambruk diikuti berlebih bertambahnya ciri kohesif intrapartikel. Keadaan ini membawa partikel-partikel penjepit beda bakupukul bantah memantang karena biji .
  5. Water Wicking: masuknya larutan berseliweran bertingkat biji diikuti berlebih pendirian lorong-lorong menyerupai rajutan atau kaitan aduk bertingkat biji. Air yang jua berjalan melaksanakan orbit yang bahkan mulia sehingga pembatas orbit terkemuka terkikis. Keadaan ini membawa biji repih karena .

Baca :  Tegangan Permukaan karena Antarmuka bertingkat Sediaan Emulsi

Suatu pelincir diharapkan dapat mengurnagi hantaman pembatas biji berlebih pembatas die pada waktu biji bakal ditekan berseliweran hebat. Mekanisme pelincir sedia 2 kumpulan, yakni:

  1. Pelincir berlebih enceranadonan, dan adanya duet lembaran gabak kategori yang dibatasi makaitu enceranadonan yang membangun berlanjut (enceranadonan lubrikan).
  2. Pelincir berlebih , dihasilkan makaitu ciri bersanding pada akumulasi polar elemen berlebih karbon cincin kuno pada lembaran logamadi pembatas dies.

Pemberian lubrikan mesti tepat jumlahnya. Kekurangan lubrikan yang agam dapat membawa biji memaksudkan coretan pada tepinya, sehingga garib mungil karena dapat membawa fraktur/rabit pada zamanambang pangkal. Kelebihan lubrikan dapat membawa biji rabit berketai-ketai waktu dikeluarkan.

Antilekat bercadang untuk meredakan melekap atau adhesi abu karena granul pada lembaran punch atau pembatas die. Antilekat yang praktis untuk lembaran punch walakin lebur larutan adalah DL-leusin.

Pelicin bercadang untuk mempercepat duli atau granul berlebih akal meredakan hantaman aduk partikel-partikel.glidan berat meredakan adhesivitas, sehingga meredakan hantaman antar partikulat mulaisejak tatatertib macam lengkap. Seperti lubrikan, glidan pada lembaran sehingga mesti bertingkat kejadian mungil karena macam logik dimasukkan berseliweran bertingkat cmapuran agregat biji.

Penggunaan glidan yang melampau agak bakal memicu sticking, yang ditunjukkan makaitu lembaran biji ademayem. Tahap akar mulaisejak sticking kebanyakan adalah filming pada lembaran punch. Kondisi yang bahkan berat mulaisejak sticking yakni picking, sampai misalnya zamanambang lembaran biji maju atau berdesir karena bersanding pada lembaran punch.

Keuntungan :Laktosa membangun eksipien yang aksi kelewat digunakan bertingkat biji yang kiberbobot bagian pemusatan hina dan ringan asimilasi yang homogen. Harga laktosa bahkan aib mulaisejak pada entitas penokok lainnya (Siregar, 2010). Umumnya formulasi laktosa menyuratkan geladir pantat remedi yang aksi, granulnya selalu kolor, karena tempo hancurnya melampau lantip mengenai metamorfosis pada kekejaman biji. Laktosa kompresibilitas yang aksi, berbau karena berperilaku inert (Lachman, 1994).

Kerugian :laktosa dapat berdamai (bertubrukan) berlebih bersut askorbat, salisilamida, pirilaminmaleat, karena fenil efrin hidroklorida (Siregar, 2010). Laktosa adalah entitas yang berperilaku kompresibel, ciri alirnya garib aksi, dapat mencarak humiditas mulaisejak sehingga cakangin dapat berdampak pada ciri diri biji (Sulaiman, 2007). Laktosa dapat macam berlebih adanya basa amin karena Mg-stearat (Lachman, 1994).

2. Pengikat : PVP (PolivinilPirolidon)

Keuntungan :Sebagai perekat yang aksi bertingkat adonan larutan atau alkohol, berwenang kebolehan laksana pengikat kolor (Banker and Anderson, 1986).  Berdasarkan analisis Muktamar (2007), PVP cantik untuk  aplikasi penggranulan, efek granul bahkan selalu kolor, memegang ciri arah yang aksi, jalur buntu minimal, fines bahkan agak karena akal kompatibilitasnya bahkan aksi sehingga dapat biji yang bahkan cantik. PVP dapat melaksanakan blok canggih berlebih bebagai elemen remedi sehingga agam obat-obat yang kelarutannya beranjak berlebih adanya PVP, dimana blok PVP bahkan bopok sehingga bahkan ringan obatnya. Tidak menyatumemadat (Lachman, 1994).

Baca :  Mengenal Koloid karena Sistem Koloid

Kerugian :ketika PVP bertingkat etanol anhidrat. Jangan   isopropanol anhidrat dan menarikdiri pada granul. PVP sifatnya higroskopis sehingga dapat memicu  biji  basah (Lachman, 1994).

3. Lubrikan : Magnesium stearat

Keuntungan: Menurut analisis Deniar (2010), magnesium stearate memegang keuntunganya itu higroskopis.

Kerugian :Tablet asetosal berlebih Mg stearat harmonis,  mestinya digunakan bersut stearat (yang mikronize dan arti lubrikan adalah antar sehingga mungil bakal mati olehl ubrikan). Konsentrasi Mg stearat laksana lubrikan optimum 2%. Jika melampau mulia bakal sampai laminatin (Lachman, 1994). Sifat hidrofobik mulaisejak magnesium stearat bakal menjegal aplikasi pecahnya biji sehingga remedi bakal gelap terdispersi bertingkat pangkalan  larutan (Deniar, 2010)

4. Glidan : Talk

Kelebihan : dapat memperbaiki akal entitas yang bakal ditabletisasi, meredakan pencaran agregat, melebarkan akurasi volume tabet karena dapat meredakan afinitas antar pada waktu aduk menyablon sehingga dapat meletakkan ciri arah yang aksi.

gabir : dapat dicampurkan berlebih molekul ammonium kuartener, dapat partummengekspresikan dekadensi karena disolusi biji

5. Desintegran :amylum

caktertinggal : laksana entitas pembasmi dan granulnya mahir mekar andaikata hubungan berlebih larutan karena amilosa, bahari kapiler yang bahkan kuat mulaisejak ekspansi, karena juga dapat akal bantah antar bagian biji andaikata hubungan  berlebih larutan karena zamanambang hidrofilik mulaisejak amilum

Kerugian :Amylum yang digunakan laksana pembasmi hebat haruslah amylum kolor dan berlebih adanya larutan bakal partummengekspresikan kemampuannya laksana pembasmi. Pengeringan amylum dilakukan pada suhu 70 °C dan pada suhu ini sampai gelatinasi mulaisejak amylum (Siswandono, 1988). Penggunaan amylum  yang  melampau agam (optimum 30%) membawa biji dapat dicetak dan kompresibilitasnya akut sengakburuk. Mengandung agak larutan 11-14%; bakal membawa biji terdisintegrasi berlebih selalu (Lachman, 1994)Tablet yang kiberbobot amilum berlebih pemusatan luhur menyuratkan biji yang repih karena sengsara dikeringkan. Amilum yang dimodifikasi berwenang ciri kompresibilitas yang aksi karena berwenang friabilitas yang mulia, karena bakal terjadi capping pada biji ketika digunakan bertingkat kelas mulia. Amilum mesti bertingkat kejadian kolor, ketika fungsinya laksana pembasmi. Jika berbaur berlebih larutan akandatang ciri penghancurnya bakal ambruk (Banker and Anderson, 1994). 

6. Absorben : aerosil

Keuntungan :Terdispersi luhur, memegang besar lembaran distingtif yang luhur karena akut membesarkan laksana entitas perencana . Aerosil dapat melalui lengketnya ahad analog lainnya sehingga meredakan hantaman antar . Selain itu aerosol mahir bersepakat ademayem, karena akumulasi sianolnya (mencarak larutan 40% darimassanya) karena laksana duli tinggal mahir melepaskan akal alirnya yang aksi (Voigt, 1984). Penambahan aerosol pada biji bakal membawa kinerja biji yang cantik, damai karena mengkilat (Lachman,1994).

Baca :  Emulsi karena Teknologi High Internal Phase Emulsion

Kerugian :Jumlah aerosil yang ditambahkan bisajadi bahkan mulaisejak 3% dan aerosol berperilaku voluminous karena mencarak larutan sehingga biji dapat tertanam yang membawa tempo bahkan usangtua (Parrott, 1971).

7. Pengawet : metil benzoate

Keuntungan: Metil paraben bahkan selalu digunakan dan bagian ini ringan lebur bertingkat larutan sehingga ringan berhimpun berlebih benda-benda langka misalnya bertingkat pembuatannya, Mencegah perubahan bakteria karena dagangan kosmetik daripada berkulat

Kerugian : Sabun selalu terhakis andaikata direndam atau terbuka pada , Bertindak berlebih UV B mendarat bisajadi memicu kepesatan kerosakan DNA karena penuaan bule ketika digunakan macam kelewat

8. Antioksidan : bersut askorbat

Keuntungan: mahir menegah pelbagai adi- khali ekstraseluler (Lachman, 1994).

Kerugian :Pengunaan avicel bakal memacu oksidasi zatpertumbuhan C. Metode berlebih granulasi basah bakal membawa tempo hancuryang aksi (Lachman, 1994).

Pertimbangan bertingkat Pemilihan Eksipien untuk Tablet

Tujuan Penambahan Eksipien:

  1. Menghasilkan pantat entitas remedi yang aksi
  2. Mendapatkan ciri – ciri diri karena insinyur yang aksi
  3. Memudahkan aplikasi manufaktur

Syarat Eksipien, diantaranya :

  1. Inert (macam karena fisiologis)
  2. Organoleptis berbau, karena beralas (semata-mata corrigenodoris, coloris karena saporis)
  3. Ekonomis : aib karena ringan didapat
  4. Sedapat tampaknya berfungsi bahkan mulaisejak 1 (praktis)

Eksipien yang dibutuhkan bertingkat formulasi bekal asak betul agam (kumpulan karena fungsinya),berlebih preferensi yang pelbagai kembali. Dalam sejumlah decade terkini, produser jua melebarkan karena mengeksplorasi pelbagai eksipien generasi hangat berlebih pelbagai ciri kimia-fisikadan keunggulannya. Dalam menyelidik eksipien, dituntut kejelian karena intelek mulaisejak formulatorsehingga dapat dihasilkan tunggal biji yang berbobot (akur, efisien, acceptable karena betah).

Banyak elemen yang mesti dipertimbangkan bertingkat menyelidik eksipien menyerupai: ciri fisika zataktif karena eksipien, aplikasi/metode invensi, asas/jalur pemanfaatan, skala karena bentuk pelepasanyang dinginkan, karena langka sebagainya. Semua kecaman terkemuka mesti dikaji secarakomprehensif, sehingga bakal dapat dihasilkan tunggal pitawat yang aksi. Prinsip aliran yang dapatmenjadi lunas adalah praktik eksipien mudah-mudahan bertingkat kelas (kumpulan karena angka) yang sesedikit tampaknya untuk  yang bahkan mulia yang tampaknya sampai antarkomponen yang sedia. Sebaliknya tunggal misalnya tampaknya bakal dibutuhkan kelas (kumpulan karena angka) yang mulia untuk menyentuh domisili unik.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Effionora. 2012. Eksipien bertingkat Sediaan Farmasi. Jakarta: Dian Rakyat.

Banker, G.S. karena Anderson, N.R. 1994. Tablet In the Theory and Practice ofIndustrial Pharmacy, Ed III. Diterjemahkan Oleh Siti Suyatmi. Jakarta: UI Press

Deniar, Winardani. 2010. Optimasi Formula Tablet Dispersible Natrium Diklofenak Dengan Bahan Penghancur Explotab karena Bahan Pelicin Magnesium Stearat. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta

Muktamar, Tin Ridha. 2007. Pengaruh Penambahan PVP (PolivinilPirolidon) Sebagai Bahan Pengikat Terhadap Sifat Fisik Dan Profil Disolusi Tablet Parasetamol Dengan Metode Granulasi Basah. Surakarta: Universitas Muhammadiyah

Lachman, L, Lieberman, H, A, dkk. 1994. Teori karena Praktek Farmasi Industri, Edisi III, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, UI – Press

Parrott, E.L. 1971. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics. Mineapolis: Burgess Publishing Company

Siregar, C.J.P. karena Wikarsa, S. 2010. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet: Dasar-Dasar Praktis. Jakarta: EGC

Siswandono karena Soekardjo. 1988. Kimia Medisinal. Surabaya: Penerbit Airlangga University Press

Sulaiman, T.N.S. 2007. Teknologi karena Formulasi Sediaan Tablet, Cetakan Pertama. Yogyakarta: Mitra Communications Indonesia

Penulis : Muhammad Naufal Mu’tashim



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.