by

Cerpen Bulan Nurguna: “Good Morning, Nice Couple!”

-CERPEN-136 views

Good morning, Nice Couple!

Thank you. Good morning.”

“Bagaimana tidurnya semalam? Nyenyakkah?”

“Ya, tentu. Semuanya excellent. Oh ya, kami ingin kamar kami dibersihkan. Tolong diganti juga handuknya.”

“Oke, boleh saya pinjam kuncinya?”

Sure. Do you have vegetarian menu for breakfast? My boy friend can’t eat meat, egg or milk.”

Sure. Wait a minute, I will show you the breakfast menu.”

Rui berjalan ke arah deretan kamar yang menyerupai lumbung.  Ia menemui Kismet yang sedang membersihkan salah satu kamar. “Nanti kita jadi kan?” tanya Kismet.

“Tentu,  aku tidak akan pulang ke pinggir1.”

“Kita makan di mana?”

“Kita lihat saja nanti. Aku belum ada terpikir,” kata Rui. “Jangan lupa kuncinya bawa ke depan ya kalau sudah selesai.”

Nggih2, Princess.”

Di meja resepsionis, Rui memindahkan nama-nama tamu dari hape ke buku tamu. Ada beberapa tamu yang akan check in hari ini. Dua orang dari Airbnb, seorang dari Expedia, dan seorang lagi dari Traveloka. Penginapan itu tidak memiliki Channel Manager3, sehingga resepsionisnya harus mencatat dan mencocokkan tamu yang akan datang antara satu online travel agent dengan yang lainnya.

“Hai, Rui,” suara bosnya sedikit mengagetkannya.

“Iya, Bu.”

“Coba cek tamu-tamu yang akan check in dan menginap untuk seminggu ke depan. Nanti sore saya akan ke pinggir untuk belanja.”

“Oke, Bu. Sebentar saya lihat,” Rui menelusuri halaman demi halaman buku tamu. “Rata-rata lebih dari tujuh puluh persen occupancy, Bu. Tetapi kan sekarang banyak tamu last minute, jadi kemungkinan Insya Allah kita akan sering full.”

“Alhamdulillah. Oke, kalau begitu saya akan belanja lebih banyak.”

“Oh ya, Bu. Tadi Kismet nitip beli pembersih toilet kalau Ibu jadi ke pinggir.”

“Oh, oke. Saya belikan. Terima kasih ya, Rui.”

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, Rui pulang ke kosnya yang letaknya hanya seratus meter dari penginapan tersebut. Kamar itu cukup nyaman, meski kamar mandi terletak di luar kamar.

“Permisi,” kata suara dari luar.

Rui membuka pintu, “Ya, Pak Haji.”

“Kapan bayar kosan?”

“Biasanya tanggal satu, kan?”

“Iya, saya cuma tanya saja.”

“Tanggal satu nggih, Pak.”

Side4 ndak pernah pulang ke pinggir ?”

“Sebenarnya tiang5 pulang hari ini, tapi tiang ada janji.”

“Sama siapa? Pacar ya?” Rui hanya membalas dengan senyum simpul. “Masak cantik-cantik ndak punya pacar,” kata Pak Haji sambil membenahi letak sarungnya yang bermotif kotak dan berwarna pink.

Rui mengambil lulur yang ada di lantai di depan cerminnya, lalu ia mulai membalur tangannya dengan lulur itu. Sudah menjadi kebiasaan, setiap ada waktu luang yang lumayan panjang ia akan merawat dan mempercantik tubuhnya. Entah itu luluran atau sekadar memakai kutek. Ia senang menyentuh tubuhnya, mempertemukan jemari kanan dengan jemari kiri ketika memakai kutek, atau mempertemukan sepasang telapak tangan ke sepasang kaki saat melulur.

Tidak berapa lama setelah mandi, Kismet menjemputnya. “Kita mau kemana?”

“Ke lalapan saja, yuk!” kata Rui

“Lalapan yang mana? Yang punya orang Jawa atau yang punya Inaq6 Minah?”

“Malas saya ke Inaq Minah. Ada saja yang ditanyakannya tentang ibu-bapak saya. Apa lagi kalau saya sama kamu. Ada saja cerita yang dia bawa ke kampung.”

Di warung lalapan mereka makan dengan lahap, “Seandainya di Gili Classic makanannya enak-enak begini, pasti kita berdua agak sehat dan gemukan,” kata lelaki itu.

“Saya tidak mau gemuk. Nanti capek kerjanya.”

“Memangnya sekarang tidak capek?”

Setelah makanan habis, mereka jalan-jalan di trotoar sambil melihat keramaian; restoran yang berada di sepanjang jalan utama, lampu-lampu kuning yang tenang, serta deretan pohon cemara.

“Kamu sudah pikir apa jawabannya?”

“Sudah.”

“Apa?” lelaki itu lalu menghentikan jalannya.

“Kita berteman saja.”

Mereka berjalan tanpa banyak bicara lagi.

“Boleh saya minta minum?” tanya Kismet ketika sampai di kos Rui.

“Boleh.”

“Boleh saya duduk di sini?” tanyanya lagi, sambil melihat ke arah pintu masuk kamar Rui.

“Boleh. Tapi setelah ini langsung pulang, ya. Saya tidak enak, soalnya masih baru di sini.”

Rui langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil air dari galon yang terletak di lantai.

“Weee! Sudah jam berapa ini?!” tiba-tiba Pak Haji sudah ada di depan pintu.

“Maaf, Pak. Ini teman saya sudah mau pulang. Dia hanya mau minta minum.”

“Minta minum minta minum!” Tanpa disangka, Pak Haji langsung menampar wajah Kismet. “Pulang kamu!” bentaknya. Kismet pulang, meninggalkan Rui yang berwajah muram.

Atas usul dari bosnya, Inka, akhirnya  Kismet dan Rui memutuskan melaporkan Pak Haji ke polisi. Tetapi sebelum itu, Inka menyarankan untuk visum dulu ke rumah sakit.

Kepada polisi yang kebetulan sedang duduk-duduk di taman dekat parkiran mobil, Inka bertanya “Maaf, untuk visum di mana ya?”

“Mbak yang mau visum?” tanya polisi itu dengan sopan.

“Bukan, teman saya, Pak,” Inka menunjuk ke arah Rui dan Kismet dengan jempolnya.

“Mbak boleh ikut ke ruangan saya. Nanti bisa tanya-tanya di sana.” Ternyata lelaki itu adalah kepala rumah sakit. Dia juga seorang dokter gigi, terlihat dari kartu nama yang diletakkan di meja. “Jadi bagaimana masalahnya?” tanya dokter yang berwajah kuning langsat, dengan barisan gigi yang sungguh rapi dan bersih itu, ketika semua orang sudah duduk rapi di dalam ruangan. Tidak lupa dia bertanya nama setiap orang, dan terakhir memperkenalkan namanya.

Mulailah Kismet bercerita perihal apa yang terjadi pada mereka dan sesekali Rui menimpali.

“Kejadiannya di kampung, ya?”

“Kejadiannya dekat hotel tempat saya bekerja, Pak,” kata Rui polos.

“Oke. Oke. Saya sudah mengerti sekarang.”

“Begini, Mbak Inka. Kalau yang perlu visum laki-laki harus melapor dulu ke kantor polisi. Visum langsung hanya bisa dilakukan pada perempuan atau anak-anak.”

“Bapak menyarankan kami ke kantor polisi dulu?”

“Nah, ini juga yang penting. Menurut saya, kepolisian tidak akan menerima laporan ini, sebab kejadian ini terjadi di kampung, yang pasti memiliki awik-awik7 sendiri. Ini masuk di dalam hukum adat, jadi ranahnya beda dengan kepolisian.”

Inka, Rui, dan Kismet diam beberapa saat. Merasa tidak ada yang bisa dilakukan  akhirnya mereka beranjak.

“Maaf ya. Padahal kita sudah capek-capek ke pinggir.”

“Tidak apa, Bu Inka, saya mengerti,” jawab Kismet, yang sesekali masih memeriksa memar di pipi kirinya.

“Kami juga minta maaf telah merepotkan Ibu,” kata Rui. Mereka diantar Inka, pulang ke rumah masing-masing.

“Halo, Sayang, kamu sedang di mana?” tanya suara di telepon.

“Aku di pinggir.”

“Kapan jadwal ke Gili?”

“Saya sudah belanja. Dua hari lagi saya ke sana.”

“Boleh malam ini aku ke rumahmu?”

Sure,” kata Inka, dipacunya mobilnya lebih kencang, agar bisa lebih cepat sampai di rumah. Tidak sabar ia bertemu dengan pacarnya. Tentu, ia harus sampai lebih dulu ke rumahnya agar pacarnya tidak lama menunggu di luar.

Pakaiannya yang tadi agak resmi dengan baju berkerah dan celana kain serta sepatu wedges hitam kini diganti dengan midi dress polos berwarna merah muda yang berkesan santai. Sebelumnya, ia sudah mampir di sebuah restoran Pizza, membeli varian vegetarian untuk kekasihnya dan Meat Lover untuk dirinya sendiri.

“Bagaimana harimu?” tanya Inka ketika kekasihnya baru saja duduk.

“Baik. Tadi ada pertemuan dengan orangtua murid membicarakan tentang pengayaan sekolah. Kamu?”

“Ah, besok saja aku cerita. Hari ini aku agak lelah. Aku sudah siapkan pizza, dan birmu masih tersisa di dalam kulkas.”

“Wow. Mana pizzanya, sayang?”

“Kutaruh di kamar kita.”***

Gunung Sari-Gang Metro, 17-18 April 2020

 

Catatan:

  1. Pinggir: Sebutan lain untuk pulau Lombok dari orang-orang yang hidup di pulau kecil Gili.
  2. Nggih: Iya
  3. Channel Manager: Suatu jenis aplikasi untuk memudahkan mengatur ketersediaan, harga, dan promosi massal untuk semua Online Travel Agent.
  4. Side: Anda
  5. Tiang: Saya
  6. Inaq: Ibu
  7. Awik-Awik: Aturan Adat

Bulan Nurguna, lahir di Mataram, Lombok, 4 Juni 1990. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Cerpen-cerpennya terbit di pelbagai media. Kini turut terlibat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

Jangan lupa klik: http://www.buanawebsite.com/garam-mandi-aleya/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed