by

Puisi Budhi Setyawan

-PUISI-235 views

BUDHI SETYAWAN

 

Sebuah Magrib

magrib adalah semacam pintu
tempat bertukar peran
pada jaga terang dan gelap
seperti sisi riwayat sejarah
orang orang yang mencari dirinya
di bayang remang kesangsian

ia juga seperti tikungan tajam
bagi kisah yang diantarkan
oleh sebuah siang dengan bibirnya
yang riuh dan penuh busa
seperti baru terkumur sabun deterjen
yang tak kuasa menghilangkan noda
di baju seragam para pekerja

dan magrib juga sebagai rekah
jaring gaib yang penyabar
bagi istirahatnya suara atau bunyi
juga nyanyi yang mencari
jalan bagi teduh keberadaannya
pada sekelumit sunyi

Bekasi, 2019

 

Sedikit Doa

telah cukup permohonan
kecuali pengampunan dan umur panjang
untuk mengumpulkan bekal menuju pulang

Bekasi, 2019

 

Rindu Adalah Puasa

rinduku padamu adalah puasa
entah kapan bisa berbuka
: menyatu doa dan sua

Purworejo, 2019

Doa Yang Bijak

doa yang bijak selalu tahu diri
tak pernah meminta yang melebihi
daripada kesanggupannya memaknai
kesediaan menafkahi jalan nurani

Bekasi, 2019

 

Mencari Hamparan Langit

bersamamu aku terbang menembus lapis lapis langit

dan memanggil nama kekasih. melewati remang dan

terang untuk mencari keberadaan desir yang selalu

bersembunyi dan menguarkan panggilan dalam sunyi.

mengembangkan degub degup dan kian memijarkan

hidup. berkelindan di jarak dekat dan jauh,

mengirimkan bayang peluk dan cium sepenuh ruh.

tak sampai sampai gigilku menggapai, hingga musim

musim lunglai.

 

bersamamu aku mencari hamparan padang terbuka

yang membebaskan ruh untuk mengelana di jalan

cinta. entah matahari atau bulan, atau planet planet

dan galaksi tak bernama yang kutemui, semuanya

terisak seperti masygul pada usia. gerah waktu hanya

menabung luka, dan kesedihan selalu mengapung di

sepanjang pandang. air mata mengalir menjadi manik

manik, menjelma biji tasbih yang tak henti

mewiridkan rindu perih.

 

Jakarta, 2019

 

Sepanjang Puasa

betapa panjang jarak
diriku denganmu
lebih dari ribuan kali bentangan
: ruang antara sahur dan berbuka

maka biarlah rindu ini dahaga
dan degup menyebut namamu
menjadi riak sepoi telaga
: sesaat segar pelukan dan jumpa

Jakarta, 2019

Majas Bumi Langit

 

perjalananmu belumlah lama

pagi yang baru menuju siang bara

 

larik larik puisi belum berpindah bait

lagu lagu belum menemu rima berkait

 

separuh yang terkandung dalam angan

belum terlahir menjadi perkataan

 

lalu ada api belia menjulurkan kalap

hingga engkau pun lindap dari tatap

 

kanvas menampung gelisah sapuan warna

menjadi peristirahatan langkah dunia

 

pada namamu yang diperam senja

khidmat berdatangan doa doa

 

bumi kehilanganmu

langit menemukanmu

 

Jakarta, 2018

 

Lukisan Sunyi

ada sapuan warna yang menetes

ke haribaan kini, hingga menyungai

mencari lembah lembah kediaman

terhampar seperti menunggu percakapan

dari berbagai kata yang tersimpan

di benak renik silam

 

entah siapa yang menahan

tak terbit juga sapa

memecah resah

 

warna warna teraduk terputar

saat ada tanya mengirim pendar

menuju arah putih niskala

 

perlahan terbit lirih perkataan

menyusup ke jantung ke nadi

mengusap getar getar pengakuan

diri dan semesta di tubir senja usia

lalu suara suara itu pun makin hunjam

menubuh hingga haru ruh

 

Jakarta, 2018

 

Budhi Setyawan, lahir di Purworejo 9 Agustus 1969. Mengelola Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB), serta ikut bergabung di komunitas Sastra Reboan dan Komunitas Sastra Kemenkeu (KSK). Buku puisi terbarunya Mazhab Sunyi (2019). Bekerja sebagai dosen. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed