by

Cerpen Iswandi Usman: Surat Cinta dari Penjara

-CERPEN-468 views

KUTULIS sepucuk surat cinta kita dari penjara. Dengan harapan kau dapat mengerti; jadilah permaisuri Marni untuk seorang Raja Abdullah. Setelah pernikahan kalian berdua. Cerita cinta antara kau dan aku pun selesai. Setelah Abdullah mempersuntingmu. Kau tak boleh mencintaiku lagi. Biarlah aku sabar menunggu senjaku dari balik sel isolasi. Semoga senjaku itu akan datang dan akan melepaskanku dari penjara. Dan kau juga boleh tak mencintaiku lagi setelah senja itu datang. Walau nanti mungkin aku masih bisa pulang.

Jangan kau tanyakan seindah apa senjaku yang akan datang itu, memerah kekuningan dan memantulkan cahayanya di atas air laut Seunuddon. Lalu terkoyak berkeping menjadi serpihan yang tak bermakna karena angin kebengisan. Namun kau tak perlu bersedih, anggap saja ini buaian mimpi yang dulu pernah kita kisahkan saat senja turun di  jembatan Putih Kutapiadah. Tempat dulu kita sering bertemu.

Perlu kau ketahui, sepanjang angin akan berembus, selalu ada cerita tentang harapan seorang laki-laki kesepian di balik sangkar baja, senja yang menunggunya dalam waktu yang serba panjang, lalu keheningan pun terjadi meski sesungguhnya gemuruh cinta dan rindunya selalu tulus ia nobatkan pada kekasih hatinya sekaligus pada sahabat lamanya. Doanya selalu menyertai cintamu dan Abdullah. Selamat berbahagia.

Tak perlu menangis sayang. Simpan airmatamu. Tangisan tak kan mengubah kejadian yang telah berlalu itu. Penjara telah melumatkan hari-hariku. Menyedot masa mudaku dalam dekam yang teramat mendera jiwa. Tapi, sayang.  Aku tak mau jikalau kau mempercayai kabar yang dibawa para pelancong yang pulang ke kampung perihal keberadaanku di balik jeruji besi. Aku bukan seorang kurir dadah seperti yang mereka tuduhkan. Aku ditangkap petugas malam itu karena aku mereka sangka sebagai penadah ganja dari Aceh ke negeri mereka. Padahal. Di sini aku hanya menjadi kuli dan pekerja semrautan demi dapat menyambung hidup di perantauanku. Tidak lebih daripada itu. Tak makan itu tak mengapa bagiku. Demi dapat menjaga marwahku, negeriku dan agamaku yang tak mengizin mencuri dan berbuat zalim lainnya. Aku rela, asalkan aku tak terjerumus ke lubang nista lagi hina itu. Mereka malah menuduhku yang bukan-bukan.

Entah darimana muasal benda-benda berbahaya itu. Aku benar-benar tidak tahu. Tiba-tiba saja mereka menemukan seransel dedaunan kering yang terpacking rapi di bawah tempat tidurku dalam bedeng. Aku tinggal di bedeng itu baru beberapa pekan waktu itu. Aku bekerja di sana sebagai kernet bagian adonan semen. Yang jelas, aku telah mereka tangkap dan mereka mengurungku dalam sangkar besi. Mereka juga menjatuhiku hukum seumur hidup. Sungguh tragis dan miris hari-hariku kini. Tapi kau tetap tak perlu menangisinya.

Penjara seumur hidupku takkan menggoyahkan imanku. Sebab aku dapat menunaikan shalat dan menimba ilmu agama di dalam sel isolasiku itu. Beruntung. Aku terkurung di dalam sel yang dihuni oleh seseorang yang memiliki ilmu agama cukup tinggi. Namanya Munir, orang kampung sebelah kita. Kau ingat dia bukan? Dialah guru yang mencerahkan hari-hariku di balik ruangan pengap itu.

Di sini aku memanggilnya Abu Munir. Beliau ditangkap dua puluh tahun silam lantaran dituduh telah bersekongkol dengan mafia dunia dari lain negeri. Padahal. Setahuku. Gembong itu tak mempunyai misi sedikitpun perihal barang-barang haram. Mereka hanya sekedar penadah pliek u yang dipasok oleh Abu Munir dari Aceh Utara. Untuk diperkenal kan ke seluruh dunia perihal masakan khas tanah Rencong yaitu kuah pliek u yang sedap itu. Abu Munir malah dihalau ke hotel Prodeo yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kenyataan yang sesungguhnya, tentang keberadaan Abu Munir di dalam ruang gelap itu tak sepenuhnya kuketahui.

Tak perlu menangis sayang. Walau cinta kita telah kandas untuk selamanya. Jika saja ingin kau lanjutkan hari-harimu bersama yang lain. Kuiklaskan dengan segenap restuku. Aku yakin. Kau pasti takkan pernah salah saat memilih dan menentukan masa depanmu. Anggap aku ini telah mati. Tapi sayang. Sekali lagi aku mohon. Tolong jangan mempercayai perihal kabar yang diwartakan para pelancong yang pulang. Aku bukan seorang kurir dadah. Aku bukan bandit narkoba.

Oya, sayang, apa kau ingat Jailani? Teman sekelas kita waktu SMA dulu. Seminggu yang lalu dia mengunjungi rumah tahananku. Dia hanya sekedar melancong menghabiskan hari liburnya bersama istri dan dua orang buah hatinya ke negeri yang telah menahanku. Dan kami sempat berbincang banyak tentang berbagai hal. Dia banyak bercerita padaku tentang keberhasilan Abdullah dalam mengenyam pendidikannya di negeri kita.

Abdullah telah menamatkan S3. Jailani juga mengatakan padaku bahwa Abdullah masih melajang. Hidup sendirian bagi Abdullah aku rasa begitu merepotkan dia. Pasti tak ada yang mengurusnya. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal. Kakaknya, Aida, telah lama menikah. Mirna, adiknyapun telah lama menikah dengan Johan, sahabat kita juga. Sementara kesibukan Abdullah itu cukuplah beralasan dan Abdullah pasti selalu menjalaninya dengan penuh tanggub jawab. Apa lagi Abdullah seorang Dosen Senior di kampus tempat ia bekerja.

Abdullah juga seorang penceramah rohani tersohor di atas podium akbar di negeri kita. Nah. Abdullah super sibuk bukan? Jika kau tak keberatan. Kurasa Abdullah perlu dibantu. Abdullah pasti sangat membutuhkan seseorang untuk mendampingi hari-harinya yang sibuk itu. Menguatkan dirinya disaat ia lemah. Menginspirasinya di saat dia kehabisan akal atau mentok akibat lupa pada materi yang ingin ia sajikan untuk para mahasiswanya di kampus. Merapikan jasnya. Merapikan tempat tidurnya. Kurasa Abdullah adalah sosok yang tepat bagimu untuk kau masak makanan enak untuknya. Kuharap kau mengerti maksudku sayang.

Jailani juga mengatakan padaku.  Dia pernah sekali melihat kedekatanmu dengan Abdullah pada suatu waktu di sebuah kafe yang terkenal di sudut kota kecil kita, Panton Labu. Itu hanya sekali dapat ia saksikan kalian duduk berdua sambil menikmati suasana sore yang ramai. Jailani mengatakan padaku, bahwa ia tidak tahu perihal bagaimana dan mengapa kalian berdua bisa bertemu di situ. Jailani tidak tahu apa yang kalian bicarakan waktu itu. Jailani hanya mengatakan bahwa dia pernah melihat Abdullah menggandeng tanganmu saat beranjak pulang dan masuk ke dalam mobil mewah milik Abdullah.

Dua hari kemudian Jailani juga mengatakan padaku bahwa dia juga melihatmu. Bahkan kalian sempat berpapasan dan saling menyapa dan berbasa-basi. Tak lama Abdullah muncul. Setelah berbincang seadanya. Kalian berdua menyambangi beberapa toko emas yang saling bersebelahan di gang Asia dekat terminal kota kita. Dan yang paling membahagiakan aku adalah perihal kata Jailani bahwa Abdullah membelikan untukmu beberapa gram emas. Aku berharap semoga Abdulah tidak sekedar memberikan emas itu untukmu sebagai cenderamata atas nama persahabatan. Aku berharap lebih dari pada itu. Semoga Abdullah membelikan emas-emas itu untuk mahar tanda pertunangan kalian berdua. Menyatukan hati kalian. Melanjutkan hari-hari kalian hingga ke jenjang pernikahan yang suci. Sakral dan abadi. Membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah. Jadilah Permaisuri Marni  untuk seorang Raja Abdullah. Semoga harapanku ini tak meleset.

Sedikit lagi sayang. Sebelum warkah ini kuakhiri. Sebelum  aku dihukum mati. Aku ingin sedikit menceritakan perihal aku dan Abdullah yang dulu. Dulu Abdullah pernah mengatakan padaku bahwa dia juga sangat mengagumimu. Dia memuja dan memuji rupa anggunmu itu. Abdullah mengatakan bahwa ia berjanji akan mendapatkanmu, memperjuangkan cintamu. Sampai kapanpun dia akan selalu menunggumu. Walau dia harus berhadapan denganku sekalipun. Walau dia harus mengorbbankan persahabatan kami yang erat itu. Abdullah juga mengatakan kau adalah segalanya dalam hidupnya. Kami berdua pernah bertekak. Bahkan kami berdua pernah berkelahi di belakang ruang kelas kita ketika jam istirahat, yang kebetulah hari itu kau tidak hadir ke sekolah karena menurut berita kau sedang menjaga ibumu di rumah sakit. Aku yang tak ingin ada siapapun juga yang merampasmu dari hidupku. Terus mempertahankanmu di hadapan Abdullah yang menggebu itu. Walau harus bergelut hingga berdarah-darah.

Kepalaku sempat pecah dihantamnya dengan cabang kedondong pagar yang Abdullah patahkan di dahannya lalu menghantamnya ke kepalaku. Aku tak sempat menangkisnya. Hingga kepalaku berlubang, walau lubang itu kecil, tapi darah yang keluar dari celahnya itu berhamburan meleleh hingga ke wajahku dan membasahi seragam sekolahku. Tapi, sebelum Abdullah melukaiku. Telah duluan aku menghantam kepalan tinjuku pada jitadnya hingga jidadnya yang tampan itu memar kebiruan. Untuk apa semua itu kami lakukan? Kami lakukan hanya untuk memperjuangkanmu. Tapi, aku yakin Abdullah kini sudah berubah. Dia akan menjedi lebih bijaksana lagi untuk menyingkapi hal-hal seperti itu. Apalagi.

Abdullah kini telah membekali dirinya degan disiplin ilmu-ilmu dan pengetahuannya yang tinggi itu. Kurasa kau tak perlu lagi meragukan Abdullah. Abdullah pasti sudah mantap. Karena kejadian dulu itulah yang membuat aku semakin yakin bahwa Abdullah takkan menyia-nyiakanmu. Dia akan membahagiakan hidupmu. Berbeda denganku. Cinta dan rinduku padamu kini hanya tinggal sebatas angan. Begitu juga dengan kehidupku itu. Hanya sebatas mimpi. Hari-hari yang meranggas lara. Cabikan luka yang tak bermakna.

Jikapun suatu saat kau mendengar kabar tentangku, yang terbaring dengan denyut nadi yang telah terhenti di atas pembaringan. Iklaskan saja. Jika kau rindu. Ajaklah Abdullah jalan-jalan menuju Kuala Matang Deungon. Kau cukup menziarahi jembatan putih Kuta Piadah sekali saja, dan pandangi langit sore yang kemilau, seperti yang dulu-dulu kita lakukan dengan kenangan kita berdua. Selagi kita masih bersama. Kuharap kau tak merindukan pusaraku. Sebab itu mustahil kau temukan.

Setelah kau baca suratku ini. Kuharap kau segera membakarnya. Aku hanya tak ingin Abdullah mambaca aksaranya. Aku tak ingin Abdullah menganggab kau dan aku masih punya hubungan percintaan. Aku tak ingin Abdullah mengira bahwa kau masih setia menunggu kepulanganku yang semu itu. Karena sisa-sisa cinta dan rindu kita telah kehabisan maknanya.

Selamat menempuh hidup baru sayang. Semoga kau hidup berbahagia dengan Abdullah, kawan lama kita dulu. Yang terpenting sayang. Kau tak membenciku. Kuharap kau bisa mengerti. Cintailah Abdulla dengan bersunggu hati. Karena cinta dan rindu kita kini tinggal hanya sebatas angan.

Marni…! Marni Sukmawati Setia Dewi. Namamu abadi disetiap hembus napasku.

Aceh, April 2018

Iswandi Usman lahir di Matang Panyang Kecamatan Seunuddon Aceh Utara, 5 Februari 1981. Sehari-hari bekerja sebagai Guru PNS pada SD Negeri 8 Muara Batu Kabupaten Aceh Utara. Beberapa cerpennya dimuat di Harian Serambi Indonesia. Beberapa puisinya terhimpun dalam buku antologi bersama DKA Kota Langsa Tahun 2014. Pernah mendapat Juara III menulis Feature yang diselenggarakan Disdik Pora Aceh Utara bekerjasama dengan Indonesia Mengajar 2013. Saat ini menetap di Kutablang Kabupaten Bireuen.

 

 

 

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed