by

Puisi Firmansyah Evangelia

-PUISI-32 views

Mozaik Santri

Bismillah, dengan ucap paling baka

Aku bersaksi: bahwa hikyat tangan-tanganku

Menggenggam kitab-kitab dan peradaban sarung paling hakiki

Lantas, kerap menakdzimi

Wejangan-wejangan suci para kiai

 

Telah ku tafsir berkali-kali pagar suci

Mengangungkan permata pertaubatan di kesaksian sujud

Hingga ritmis air mata tumpah

Atas kegelapan dari dosa-dosa yang kucipta

 

Ini kali, ingin kutanam bibit-bibit iman di ladang hati

Kesabarannya menjelma akar-akar kekar

Serta desing gemerlap dzikir

Memancar pula di tangan tuhan

 

Doa-doa habis kupanjatkan

Huruf-hurufnya mengalir sebagaiamana sungai tak kenal akhir menjumpai hilir

Memalingkan sekujur resah, yang kerap kali berdiam di curam dada

Sebab, salah satu nya jalan berkah

Berhasil mencapai kristal barokah

 

Khusyu’ tawaduk suntuk tajuk disepanjang rukuk

Melafalkan sembilan puluh sembilan nama-nama Tuhan

Mentalbiahkan gelora fatihah di otak ku

Sembilu meredam nyala angkara murka bara nafsu di dadaku
lepas bujuk dari rencana syetan tak berwujud.

Annuqayah, 2019

 

Rubaiyat Rindu

;Teruntuk Neng Ozara

 

“Jika merindukanmu adalah overdosis,

 Maka aku adalah orang pertama kali yang akan menderita”

 

Neng, mengawali segelintir cemas ranggas paling ganas di dadaku

Aku ingin titip perihal pada nyala api yang menari di matamu

Bahwa tragedi paling kukuh:

Adalah tunggalnya kesaksian rindu.

 

Apalagi yang harus ku katatakan pada langit

Bila mana kebenaran dari rinduku

Tak pernah mengenal proklamasi musim

Keadilan kemarau, juga tetas rinai hujan

yang bertandang di pekarangan rumahmu.

 

apalagi yang harus ku sampaikan pada tanah

manakala sejatinya resah

telah berpijak, pada kegersangan batin yang tak pernah bengkak

juga, menjadi tulang-belulang harapan

sebagaimana kehendak tuhan

menghadiahkanku tunas kesabaran.

 

Apalagi yang harus ku titipkan pada angin

Pabila rahim desirnya

Adalah bagian gigil dari tubuhmu.

 

Apalagi yang harus ku rahasiakan padamu

Pabila hakikat dari bebayang lain

Larut sirna di mataku

Dan hanya kepadamulah

hendak ku persembahkan segala rindu.

Annuqayah, 2019

 

Suatu Malam di Kotaku 

; (Sumenep)

Kala itu, aku duduk dengan sepi

menerjemahkan  suara bising geming doa-doa para pekerja

Yang hikayat hidupnya adalah melaju di lintasan

mengangkat segala beban

Serta mengalirkan darah-darah kemarau kesekujur tubuhnya

Barang kali semua ini hanya pendapatku

Selebihnya hanya Tuhan paling tahu

Dari dasar rahasia resah

Juga keringat lelah para pekerja

Lalu setelah itu, kupandangi lengking bintang

Dan mata purnama di ketinggian langit

Yang binarnya menyimpan ritmis tangis sebuah kesedihan

Di reranting kisah atau dahan-dahan dari sejarah

 

Diatas hesaksian desir angin

Yang seringkali merayap pengap ke ceruk dadaku

Menggigilkan huru-hara di samudera hati

antas kericuanpun lahir

diantara lereng waktu dilekuk jiwaku

Sungguh! Bentang jarak persemayaman kehendak

Adalah jalan yang tak pernah bengkak

Meski berkali-kali telah kupijak.

Annuqayah, 2019

 

Perempuan yang Menyukai  Senja

;Neng wilda

Berangkat dari rasa yang menggelora

Mengkristal garam-garam harapan pada tubuh

Lalu, deru asin seakan melaju lebih kencang diotakku

Menenggelamkan segala sunyi

Yang sempat kuasah di lembah hati

 

Ia sesal pada gelap

Sebab bulir setangkai harap

Lekuk senja kerap gemerlap

Bahkan ia sempat cakap dalam lelap

“bisakah malam ditiadakan”

Seketika silir mengalir pada takdir

Menghembus keras pada mataku

Hingga lelah pecah mencipta resah

Pada Tanya berujung gelisah

 

Mungkin ia sudah benar-benar gila

Pada kisah rahasia , yang sempurna tercipta dibibir senja.

Annuqayah, 2019

 

Seekor lalat

yang diam-diam mencintai kopi

Ia kekal sakral dalam kental

Menyajikan aroma bingung pada kidung hidungnya yang busung

Hingga ia ragu mencicipinya dengan cinta

Takutnya pahit akan menggigit pada lidahnya

Tapi, seekor lalat  tetap tabah pada resah

Meski secangkir kopi

Kerap gelisah sulit mengerti

Sebab, cecap kata dari batinnya:

“segalanya akan berarti

 Bila restu telah lahir dari hati.”

 

Aku masih belum mengerti

Mengapa seekor lalat

Lebih memilih mencintai kopi

Daripada sisa butir-butir dari nasi?

Annuqayah, 2019

 

Sepotong Sajak untuk Penyair

Zen Kr. Halil

Mari, penyair

Ajari aku cara berlari

Dari lelapnya imajinasi

Agar diksi-diksi yang kukaji

Bisa berputar dalam puisi

 

Kerap kali aku bingung, Diantara bait-bait serangkai majas

Yang kadang rancu tak jadi-jadi

 

Mari, penyair

Suguhkan padaku yang hakiki, Sejatinya diri adalah berarti

Tapi, sejatinya dalam tulisan, Itu perihal yang aku ragukan

 

Ini kali aku bertanya, Semoga buih jawabanmu

Mengantarkanku untuk berlabuh.

Annuqayah, 2019

 

Kesaksian Air Mata

Berangkat dari rahim sunyi

Kesakralan batin malam

Tempat istana hati merapalkan kristal dzikir

mutiara sabda

Serta lentingan istijabah pada Tuhan

 

Luas asin di samudera

Kian keruh dengan tangisku

Debur ombak dosa-dosaku

Lesat arus jadi tobatku

Lalu dengan pasrah

Kuretas segala tungku kembang resah dikerut darah

Hingga kelamnya sebuah risalah

Larut sirna di mataku

 

Maka, kali ini

Laskar pisau di kedalaman jiwa

Murni tajam dengan tirakat.

Annuqayah, 2019

 

Risalah Cinta Seluas Laut

Aku mencoba bergelut pasrah di lengkung matamu

Meretas mimpi-mimpi yang bergelayut di rinai malam

Lantas, riuh keramaian resah, tak lagi bertandang di dadamu

Sebab, kisah cintaku seluas laut

Menyimpan riuh dan gemuruh debur kesetiaan padamu

 

Perkenankan aku menjadi arus, kasih

Agar aku bisa menghanyutmu

Hingga sampai terlantar di pekarangan rumahku

Lalu ku peluk engkau erat-erat

Sampai hikayat hangat sekujur tubuhmu

Merasuk pula ke daging-dagingku

 

Selain itu, silau matahari juga ingin dijadikan tubuhku

Agar matamu tak pernah mengenal gagal untuk memandangku

Sebagaimana malam yang tak pernah di tinggal rahim sunyi

Annuqayah, 2019

 

Nyanyian Kodok di tepi Sungai

Aku resah dalam tanya

Kodok bernyanyi buat siapa?

Annuqayah, 2019

 

Risalah Secangkir Kopi

Yang kuseduh adalah diksi

Dengan kental hitamnya koherensi

Pada ampas nyeri,sedih terpatri di hati

Memagari sunyi

Dari duri batas perih

Yang kerap kali berdiam di tubuh puisi

 

Aku harap pekat kalimat tetap melekat

Diakar bara kecamuk luka

Resah mengalir jadi derita

Dan aku, takkan lagi sudi merangkul getir

Untuk menafsir besing-besing suara takdir

Di lembah sandiwara para fakir

 

Sejatinya, ingin aku melahap rasa

Demi menjangkau segala arah

Disaban zikir dan doa metafora

Agar semestinya yang diharapkan

Kian mencipta keabadian

 

Namun, pahit masih merayap dilidahku

Menjalar hingga kesekujur tubuh

Menyelinap diantara kembang batin-batinku

Dan barangkali masih butuh gula, sayang?

Agar gelap tak lagi kelam

Dalam melafal rahim segala  kata-kata.

Annuqayah, 2018

 

Firmansyah Evangelia nama pena dari Andre Yansyah, lahir di Pulau Giliyang, 12 September 2002 tepatnya di Dusun Baru Desa Banra’as. menyukai puisi dan tater sejak aktif di beberapa komunitas, di antaranya PERSI (Penyisir Sastra Iksabad), LSA (Lesehan Sastra Aannuqayah) , Ngaji Puisi, Mangsen Puisi, Sanggar Kotemang, Poar-Ikstida. Saat ini menjabat sebagai Ketua Komunitas PERSI periode 2019-2020.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed