by

Cerpen Ruly R: Nasi Pecel di Pagi yang Mendung

-CERPEN-30 views

AKU baru saja pindah ke kota ini karena alasan pekerjaan. Sesampai di kota ini aku langsung menyewa kamar indekos setelah mendapat rekomendasi dari kerabat ayahku.Segala kehidupan baruku akan dimulai di kota yang dijuluki banyak orang sebagai kota seribu pabrik, meski aku tak tahu pasti jumlah pabrik yang ada di sini. Mungkin beberapa orang memang sering menggunakan hiperbola untuk suatu hal, termasuk julukan kota ini. Bukan bermaksud menyombongkan diri atau bagaimana tapi aku tahu tentang ini dari yang kubaca di media daring.

Di sini aku lebih suka menghabiskan waktuku selepas pulang kerja untuk bermain game online atau sesekali membaca di dunia maya. Mungkin itu semacam hobiku setelah pulang dari pabrik. Jujur saja aku jarang keluar kamar selepas pulang dari pabrik, bagiku lebih enak jika mengurung diri di kamar dan memainkan gawaiku saja, daripada keluar dan berinteraksi dengan sekitar. Toh, sangat jarang ada yang nongkrong di komplek indekos ini kalau malam, kecuali malam minggu. Tapi lain denganku,malam apapun bagiku sama, lebih baik santai di dalam kamar. Tapi semua pandanganku berubah ketika aku berinteraksi dengan nenek penjual pecel yang tak jauh dari letak indekosku.

Nenek itu jualan pecel bukan di warung atau rumah melainkan sebuah meja yang dia sulap menjadi lapaknya. Dari yang kudengar dari seorang kawan, pecel buatan nenek itu enak dan tangannya mahir meracik bumbu guna melayani setiap pembeli yang rata-rata ibu-ibu dan beberapa pemuda yang satu pabrik denganku. Setiap pagi warung itu selalu ramai dengan pembeli.Tapi aku tidak terlalu tertarik dengan semua itu, aku jarang sarapan ketika berangkat kerja, terlebih juga aku tidak terlalu suka sayuran. Meski setiap hari kerja aku melewati lapak pecel nenek itu, tapi sampai sejauh ini aku belum pernah beli.

Seiring waktu biasanya kesukaan dan adaptasi akan beriring, tapi tidak denganku. Aku masihsama, lebih suka diam dan sibuk dengan gawaiku ketika di perjalanan menuju pabrik, aku tidak peduli dengan sekitarku. Jika aku mengingat, mungkin ini karena kedua orangtuaku dulu sangat memaksaku untuk giat belajar ketimbang membolehkan bemain di luar rumah.Karena hal itu juga aku tidak mempunyai banyak teman dan tumbuh menjadi anak yang apatis. Sebenarnya aku selalu mendapat peringkat bagus semasa di sekolah dulu, tapi  suratan nasib memang misteri. Aku mendaftar di kampus favorit yang ada di kotaku tapi tidak diterima. Entah karena apa, aku sendiri tidak tahu.

Aku juga termasuk pemalu, sampai aku di perantauan juga masih seperti itu. Hidupku semacam keteraturan yang aku jalani.Kerja, pulang, bersantai barang sejenak lalu tidur. Begitu setiap hari kecuali di jeda saat Minggu tiba. Hari Minggu biasanya juga kuhabiskan untuk istirahat atau bermain game online di gawaiku. Aku menyebut semua itu keteraturan karena aku menyukai hal itu. Menyenangkan bagiku ketika aku tidak perlu banyak bicara atau berinteraksi dengan sekitar.

***

Sekitar sepuluh hari lapak pecel nenek itu tidak jualan. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan hal itu. Hanya saja ketika aku melangakah melewati jalanan tempat nenek itu membuka lapaknya, aku merasa ada keganjilan.  Hal itu membuatku terus bertanya kenapa nenek itu tak jualan. Aku berpikir mungkin sesuatu yang buruk sedang menimpanya.

Keganjilan itu seakan terus menumpuk di pikiranku. Aku sendiri tidak tahu kenapa pikiranku justru terpusat pada hal itu. Aku berusaha meniadakan pikiran tentang nenek penjual pecel itu, tapi percuma. Justru semakin aku berusaha, bayangan nenek itu selalu datang. Terlebih omongan temanku yang mengatakan pecel nenek itu yang enak dan tangannya yang mahir meracik bumbu. Jujur baru kali ini aku merasa seperti itu, entah karena apa aku sendiri tidaktahu.

Pagi yang mendung, nenek itu akhirnya berjualan. Sebenarnya aku tidak memedulikan itu. Begitu melintas di depan lapaknya, pemandangan berbeda ada di sana, tidak seperti sebelumnya. Dulu, saat dia belum libur jualan, lapaknya selalu dikerumuni pembeli, tapi hari ini tidak begitu. Hanya ada beberapa pembeli yang ada di sana. Selang beberapa hari, lapak itu semakin sepi pembeli. Aku yang memasang headset dan melintas di depan lapak pecel milik nenek itu merasa heran. Jika kupikir mungkin karena pembeli mulai bosan dan memilih menu sarapan yang lain. Belum lama ini juga ada warung cepat saji yang berdiri dan setiap pagi tempat itu selalu ramai.

Seperti biasa, setiap pagi aku melintas dan semakin hari keherananku semakin menjadi, tapi aku tidak punya keinginan untuk menanyakan hal itu. Di pagi yang masih juga mendung, saat aku melintas di sana, tak kulihat satu pun pembeli. Nenek itu memberi anggukan dan melempar senyum padaku, aku membalasnya secara spontan saja. Mungkin nenek itu mengucapkan sesuatu, aku sendiri tidak tahu karena aku mengenakan headset. Hari-hari berikutnya masih sama, tanpa pembeli dan nenek itu tersenyum sembari mengangguk. Dalam pikiranku terus berkelindan hal itu, dan di pagi yang mendung, saat libur kerja aku sengaja ingin membeli nasi pecel milik nenek itu. Tapi ternyata hari itu dia tidak jualan. Jika kukatakan sejujurnya, sebenarnya bukan karena aku ingin membeli nasi pecelnya saja, tapi lebih pada rasa penasaranku kenapa sekarang lapak pecelnya sepi pembeli.

Esok hari, di pagi yang mendung, sebelum berangkat kerja kuniatkan untuk membeli nasi pecel itu. Deru kendaraan yang ramai dan berisik seakan meminta perhatian lebih, baru kudengar semua itu kali ini, karena aku sengaja tidak mengenakan headset. Setiba di depan lapak pecel, nenek itu tersenyum padaku.

“Satu, Nek. Dibungkus,” ucapku.

Tak ada sepatah kata yang keluar dari nenek itu, dia hanya melempar senyum. Aku kembali mengulang ucapanku sembari mengangkat telunjukku sebagai tanda aku memesan satu. Benar yang dikatakan temanku, bahwa tangan tuanya mahir dan cekatan dalam meracik bumbu.

“Berapa?” tanyaku. Jujur aku tidak tahu harga nasi pecel di sini. Tentu di kota perantauan, harga-harga sangat kontras dengan harga yang ada di kampung halamanku.

Nenek itu kembali tersenyum.

Kuulangi tanyaku dengan suara yang tinggi. Jujur aku kesal, karena dia hanya tersenyum ketika kutanya, tapi semua itu tiba-tiba berubah. Seketika kakikulemas ketika mendengar nenek itu mengucap dengan omongan yang tak jelas kutangkap dan memberi isyarat dengan jarinya. Rasa penasaranku memang belum sepenuhnya terpenuhi, tapi sejak pagi yang mendung itu, aku selalu membeli nasi pecel di lapak nenek itu. ***

Ruly R, tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Literasi Kemuning. Kumcernya yang baru saja terbit berjudul Cakrawala Gelap (Penerbit Nomina, 2018) dan Novelnya yang akan segera terbit berjudul Tidak Ada Kartu MerahSurat menyurat: riantiarnoruly@gmail.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed