by

Di Museum Nasional, Pangeran Diponegoro Hidup Kembali

-Budaya-54 views

Jakarta, Radar Seni – Pameran benda pusaka Pangeran Diponegoro telah berlangsung di Museum Nasional, Jakarta Pusat pada 28 Oktober sampai 26 November 2020. Pameran ini berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan dalam program Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020. Pihak penyelenggara menggunakan konsep pendeketan anak muda agar lebih menarik.

Pameran ini bertajuk Pamor Sang Pangeran. Merupakan gambaran eksplisit semangat juang Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda. Pada masa pandemi seperti sekarang, pameran ini diharapkan menjadi alternatif hiburan yang edukatif bagi masyarakat Indonesia. Kehidupan dan perjuangan Pangeran Diponegoro juga dapat menjadi inspirasi dalam pembentukan karakter bangsa serta semangat berjuang dalam menghadapi pandemi covid-19.

Isi pameran adalah suguhan benda-benda pusaka peninggalan Pangeran Diponegoro yang pernah dirampas Belanda. Beragam benda pusaka milik Pangeran Diponegoro seperi pelana kuda dan tombak dipamerkan. Tidak hanya hanya itu, keris Kyai Nogo Siluman milik pun ikut dipamerkan.

Sebelumya, keris tersebut berada di Museum Volkenkunde di Leiden, Belanda selama dua abad. Namun, keris ini dikembalikan Raja Willem Alexander ke Indonesia pada Maret 2020 lalu.

Lalu ada Babad Diponegoro (1831-1832) yang merupakan naskah klasik otobiografi sang pangeran yang ditulis pada awal pengasingan di Manado. Juga kisah kehidupan sang pangeran ditampilkan dengan konsep mendongeng (storytelling) dilengkapi dengan teknologi video mapping dan komik manga ala Jepang yang sangat digemari kaum muda.

Sang pangeran juga tampil bersama kuda kesayangannya, pusaka hidup bernama Kanjeng Kiai Gentayu dalam bentuk hologram. Film animasi kisah Pangeran Diponegoro sejak penangkapan di Magelang (28 Maret 1830) hingga diasingkan ke Manado (3 Mei 1830) yang berjudul “Diponegoro 1830” juga akan melengkapi pameran berbasis teknologi ini. Dalam pameran ini disajikan pula foto-foto lukisan dan sketsa Diponegoro hasil karya seniman dalam periode 1807 hingga 2019.

Salah seorang kurator, Nusi LE mengatakan konsep yang dihadirkan dalam pameran ini sengaja menggunakan konsep berbeda dari pameran sebelumnya. “Setelah diskusi panjang lebar, kita ada ide. Ini idenya pernah dipakai jadi kita mengadopsi lagi. Kayaknya keren nih membuat cerita Pangeran Diponegoro dengan story telling. Apalagi sekarang orang pada males baca ya,” kata Nusi, beberapa saat lalu.

Pameran tetap menerapkan protokol kesehatan ketat dan terbatas bagi pengunjung di tengah pandemi corona. Bagi masyarakat yang tertarik datang ke pameran, bisa mendaftar terlebih dahulu melalui laman pkn.id. Dalam sehari, ada lima sesi kunjungan, mulai dari pukul 10.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. (jar)

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed