by

Cerpen Mahdi Idris: Keparat Baik Hati

-CERPEN-127 views

SAAT aku membuka pintu pertama kalinya pada hari itu, seorang lelaki bertubuh tegap telah berdiri di halaman rumahku. Aku memanggilnya si keparat baik hati. Bukan tanpa alasan aku memanggilnya begitu (dalam hatiku saja). Bulan lalu ia juga telah mendatangiku. Persis seperti hari ini, pagi baru saja merayap turun ke bumi yang sedang kemarau. Kedatangan pertama kalinya ke rumahku saat itu, ia telah memperdengar makian yang memuakkan perihal sahabat-sahabatnya yang setelah mempertaruhkan nyawa di hutan, kini menjadi anggota parlemen yang angkuh. Mereka tak peduli lagi dengan si keparat yang hidupnya terlunta-lunta di pasar, sebagai buruh kasar pengangkut barang dari truk ke kedai-kedai.

Ya, si keparat itu, sekarang berdiri tegak bagai seorang pimpinan upacara yang sedang menerima perintah inspektur. Ketika aku menyunggingkan senyum padanya, ia membalasnya dengan anggukan seraya tersenyum masam. Pasti ia sedang dilanda gelisah, pikirku.

“Masuklah,” seruku dengan sedikit keras seraya melambaikan tangan. Kalau tidak, ia tidak akan bisa mendengarnya dengan jelas. Lima belas tahun lalu, telinganya kena tendangan sepatu lars tentara di Pos Bukit Tengkorak. Demikian jelasnya padaku saat pertama kali ia datang ke rumahku.

Aku masih berdiri mematung di ambang pintu, sementara ia bergegas mengayun langkahnya sesaat setelah mendengar panggilanku. Aku tersenyum kembali padanya. Dan inilah yang bisa aku lakukan untuk membuka pertemuan pada pagi ini dengan laki-laki itu.

“Masuklah,” ujarku kepadanya saat dia sudah berada di teras rumahku.

“Di sini saja,” balasnya. Wajahnya tampak makin tegang. Aku yakin, pagi ini ia akan membicarakan sesuatu kepadaku. Hal yang amat penting. Penting baginya dan bisa saja suatu hal yang menurutnya amat rahasia.

“Sebentar. Saya ambil kursi dulu.”

Aku masuk ke dalam rumah, mengambil dua kursi plastik di ruang dapur.

“Ada tamu?” tanya istriku yang sedang menyeduh kopi.

“Iya. Buatkan kopi secangkir lagi.”

Aku kembali ke serambi, meletakkan dua buah kursi di dekat pot bunga lidah buaya. “Duduklah,” ucapku pada laki-laki itu.

Ia mengangguk, lantas duduk di atas kursi di sebelah kananku. Tangannya merogoh saku celana sebelah kiri, mengambil bungkus rokok dan menyulutnya sebatang. Tangan kirinya mempermainkan rokok yang sudah dibakarnya dan asap mengepul bersama gelombang angin pagi yang gigil. Lalu ia mengisap dalam-dalam, lalu mengembus asapnya. Dan asap itu menyapu wajahku. Aku membatuk. Mataku sedikit perih.

“Sudah sarapan?” tanyaku, memecah keheningan.

“Belum!” jawabnya tegas.

“Kalau begitu, kita sarapan di dalam.”

“Tidak usah. Aku sudah biasa sarapan jam 10 pagi di pasar.”

“Tidak apa-apa kan, sekali saja sarapan di sini.”

“Jangan! Aku rugi sarapan di sini. Aku bayar sarapan bulanan di kedai Minah.”

“Oh, baiklah. Kalau begitu aku ambilkan kopi,” balasku kemudian, seraya bangkit dari tempat duduk.

“Boleh. Terima kasih,” sahutnya, seraya menatapku. Wajahnya tampak tegang.

Aku mengambil dua cangkir kopi yang sudah disiapkan istriku di atas meja makan, lalu kembali ke serambi dan meletakkannya di atas meja kecil di hadapan kami.

“Silakan,” ucapku, seraya mengangguk pelan.

Ia masih saja mempermainkan sebatang rokoknya. Ia hisap dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya. Asap itu berbutar membentuk kantung udara yang tipis, lantas lenyap diembus angin pagi.

“Sudah berapa lama berpisah dengan istri?” tanyaku.

“Sebulan,” sahutnya pelan. Jawaban yang tenang dan tak tampak kesedihan di raut wajahnya yang gelap itu. Kemudian tangan kanannya meraih cangkir kopi dan menyesapnya sedikit, lantas meletakkan kembali di atas meja.

***

AKU yakin, pertanyaan itu tidak membuatnya tersinggung. Sebab ia sendiri yang telah menceritakannya padaku saat pertemuan kami pertamakali di pasar. Saat itu aku belanja di toko kelontong bersama istriku. Lelaki ini sedang memikul kardus berisi mi instan dan meletakkannya di depan toko tempat aku belanja. Ia menatapku sambil tersenyum, lantas menyalamiku. Karena sikapnya yang ramah, aku menawarkan padanya minum kopi di samping toko itu sambil menunggu istriku belanja di toko lain. Dan biasanya, karena sesekali ke pasar, istriku berbelanja agak lama. Aku punya banyak waktu duduk santai bersama lelaki ini di kedai kopi. Dan ini penting sekali aku lakukan, karena beberapa bulan lagi masa jabatanku sebagai anggota DPRD akan berakhir. Aku akan mencalonkan diri kedua kalinya. Lelaki ini sangat layak aku jadikan tim sukses untuk menjaring suara untukku.

Sebelum aku membicarakan masalah pemilihan anggota legislatif beberapa bulan lagi, aku ingin tahu dulu tentang laki-laki ini. Aku tak bisa sembarangan mengutarakan keinginanku untuk mencalonkan diri kedua kalinya. Selama ini banyak orang yang kudengar dari mereka, bahwa aku salah seorang anggota DPRD yang tidak becus, karena tidak pernah melakukan kunjungan ke kampung-kampung, baik itu memberi bantuan atau mendengah keluh-kesah mereka. Maka, pada lelaki ini aku pun segan mengatakan maksud hatiku.

“Tinggal di mana?” tanyaku saat itu, sesaat setelah kami duduk di kedai kopi itu.

“Meurandeh,” sahutnya singkat. “Saya di sini buruh pasar, Pak.”

Aku manggut-manggut.

“Saya mantan kombatan. Sudah dua belas tahun jadi buruh pasar. Daripada menganggur, jadi pencuri dan perampok, lebih baik bekerja begini,” jelasnya.

“Benar,” balasku.

“Saya punya anak tiga orang, Pak. Masih kecil, yang sulung kelas tiga SMP.”

Aku mengangguk-angguk. Tak bisa mengatakan apa pun. Biarlah ia terus berbicara, membuka jati dirinya padaku. Yang terpikir olehku hanya kata “kombatan”. Sebab aku salah seorang dari mereka. Hanya berbeda wilayah. Sebelum perdamaian dengan pemerintah, aku berada di wilayah Pantai Timur. Aku menduga, lelaki ini termasuk pasukan wilayah Pantai Utara. Makanya kami tak pernah bertemu sebelumnya. Saat itu, kota kecil ini termasuk wilayah Pantai Utara. Dan aku tak punya hubungan sama sekali dengan mereka.

Setelah perdamaian dengan pemerintah pusat, kami membentuk sebuah partai lokal bernama Partai Kita. Aku salah seorang pengurus partai di tingkat pusat. Kemudian memilih tempat tinggal di Pantai Utara dan terpilih sebagai anggota DPRD Partai Kita yang dianggungkan masyarakat karena partai inilah yang akan mensejahterakan masyarakat dengan janji  realisasi butir-butir kesepakatan yang tertuang dalam undang-undang daerah.

Ribuan mantan kombatan bergabung dalam Partai Kita dan puluhan ribu lainnya yang tersingkirkan, salah satunya lelaki yang berada di hadapanku saat itu. Kemudian mereka membenci dan memusuhi para mantan kombatan yang mendapat jabatan politik dan jabatan lainnya di Pantai Utara. Rata-rata mereka yang tersingkir itu memilih hidup damai di pelosok desa atau mengalih profesi lain yang dapat mempertahankan hidup mereka bersama anak dan istri dari keterpurukan. Tapi kesumat dendam pada orang-orang dalam kelompoknya terus mendekam dalam hati. Dan mereka hanya dapat mencaci-maki.

“Sekarang rumahtangga saya hampir hancur. Istri saya selalu minta cerai. Inilah yang membuat saya gelisah,” ucapnya. Wajahnya tetap tegar dan seolah pasrah pada nasib yang dialaminya.

“Bersabarlah,” ucapku kemudian, seraya menatapnya.

“Ya. Saya terus bersabar. Tapi istri yang tidak mau bersabar lagi,” jawabnya datar. Lalu ia menyeruput kopi yang masih panas itu.

“Oya, saya pulang dulu. Istri saya sudah datang,” ujarku sambil menunjuk istriku yang sedang berjalan ke arah kami.

“Baik, terima kasih, Pak,” ucapnya, sambil menyalamiku.

Aku memasukkan dua lembar uang seratusan ke dalam saku bajunya yang kumal dan bau.

“Jangan, Pak. Saya masih sanggup bekerja. Tubuh saya tidak cacat,” ujarnya seraya memasukkan kembali uang itu ke dalam saku bajuku.

“Sedekah. Saya sangat ikhlas. Ambillah, sekadar untuk beli beras,” sahutku, sambil memasukkan kembali uang itu ke dalam saku bajunya.

“Terima kasih, Pak.”

“Oya, kapan ada waktu, datanglah ke rumah saya di kampung Buloh,” ucapku. Lalu aku keluar dari kedai kopi itu, meninggalkannya yang masih berdiri mematung seraya menatapku.

***

KEDATANGANNYA pertama kali ke rumahku, membuatku kesal. Tapi aku tetap bersabar dan tak menyahuti sepatah kata pun perihal yang ia sampaikan padaku yang jika aku pikirkan sangat menyakitkan.

“Dulu di hutan, kami sama-sama berjuang melawan tentara. Katanya untuk mendapat kemerdekaan. Tapi lihatlah sekarang, setelah mereka mendapatkan kedudukan dan uang banyak, mereka tak peduli lagi kepada rekan seperjuangan, apalagi cita-cita perjuangan,” jelasnya.

Aku tersenyum-senyum mendengarnya.

“Yang parah lagi, mereka menikahi gadis remaja dan meninggalkan istri tuanya yang sudah memberinya makan selama darurat militer,” lanjutnya.

“Hmm….” aku berdeham. Dadaku mulai panas.

“Dulu mereka berbaiat setia dalam perjuangan. Memang kita tidak merdeka, tapi pemerintah menyetujui pembentukan Partai Lokal. Seharusnya, dengan partai ini kita bisa menuntut hak-hak kita, seperti pembagian hasil kekayaan alam kita yang melimpah-ruah. Ternyata, para pembesar itu tak peduli sama sekali. Hidup rakyat terus morat-marit.”

“Iya. Benar, katamu,” ucapku kemudian dengan nada yang datar. Aku tak ingin berdebat dengan keparat ini.

Setelah menghabiskan secangkir kopi panas pada pagi itu, ia pun pamit padaku. Dan aku tak lagi memberinya uang sebagaimana pada pertemuanku dengannya di pasar seminggu lalu. Aku sakit hati. Dia benar-benar keparat. Hanya orang-orang keparatlah yang berkata buruk kepada temannya. Kalau memang ia membenci beberapa temannya yang telah berkhianat itu, ia tak harus membenci kelompok. Hanya orang-orang yang pernah dekat dengannya saja, pikirku saat itu.

***

“ANDAI saja aku seperti mereka, istriku takkan minggat dari rumah,” ujarnya, lalu ia menyulut rokoknya yang kedua. Dan asap yang mengepul itu benar-benar membuat napasku sesak.

“Minggat?”

“Iya. Dia sudah pulang ke rumah ibunya.”

“Anak-anak, bagaimana?”

“Dibawa juga,” balasnya, lalu ia mengangkat cangkir kopi dan menyeruputnya sedikit demi sedikit.

“Aku benci mereka!” ujarnya, agak tinggi.

“Siapa?”

“Keparat yang duduk di parlemen itu.”

Aku tersenyum. Untung saja sampai saat ini aku belum mengatakan kepadanya bahwa aku ikut pemilihan umum kedua kalinya beberapa bulan lagi. Jika aku menyampaikan maksudku itu, dia akan marah dan membenciku. Sebab aku salah seorang di antara orang-orang yang digunjingnya.

“Saya pamit dulu, Pak,” ujarnya kemudian, setelah menghabiskan kopi sampai tetes terakhir.

“Baik,” balasku seraya tersenyum.

Setelah ia keluar dari pekaranganku, aku masuk ke dalam rumah. Lalu menyelinap ke dalam kamar dan mengambil ponsel di atas meja. Aku mengirim pesan kepada seseorang: Si keparat itu sudah keluar dari rumahku. Aku ingin dia mati sekarang juga. Terserah bagaimana cara yang kaulakukan. Lalu aku menutup layar ponsel dan meletakkan kembali di atas meja. Pikiranku mulai tenang. ***

Tanah Luas, 2018-2019

 

Mahdi Idris lahir di Keureutou, Aceh Utara, 03 Mei 1979. Karyanya pernah dimuat berbagai media lokal dan nasional serta antologi bersama sastrawan nasional. Buku cerpen tunggalnya yang telah terbit: Lelaki Bermata Kabut (2011), Sang Pendoa (2013), Jawai (2014), dan Kisah di Rumah Terakhir (2018). Saat ini bermukim di Desa Hueng, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.

 

 

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed