by

Mengenang Rahayu Supanggah, Komposer Gamelan yang Mendunia

-SOSOK-67 views

Jakarta, Radar Pagi – Mantan rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Prof Dr Rahayu Supanggah, meninggal dunia pada Selasa, 10 November 2020, di Rumah Sakit Brayat Minulya Solo, sekitar pukul 02:45 WIB. Almarhum menghembuskan napas terakhir pada usia 71 tahun.

“Innalillahi wa’innaillaihi rojiun. Bapak Rahayu Supanggah meninggal dunia pukul 03:00 WIB. Mohon dimaafkan segala kesalahan beliau dan mohon doa,” tulis seniman Solo Peni Candra Rini, dalam pesan berantai yang beredar.

Peni mengatakan Panggah sudah sakit sejak tiga tahun lalu. “Bapak memang sudah lama sakit, riwayat stroke,” katanya.

Selama hidup, Panggah yang di akhir hayatnya bermukim di Dusun Benowo RT 06 RW 08 Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah ini dikenal sebagai komposer yang melawat ke berbagai belahan dunia untuk menggelar pertunjukan musik karawitan.

Panggah lahir di Boyolali, 29 Agustus 1949, dari keluarga seniman. Namanya melambung di dunia seni sejak usia remaja ketika masuk Konservatori Karawitan (Kokar) Solo dan dilanjutkan kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Solo.

Di kampus seni tersebut bakatnya semakin terasah ketika dibimbing oleh seniman dan budayawan Sedyono Djojokartiko (SD) Hoemardani atau akrab disapa Gendhon Hoemardani.

Pada 1965, Panggah termasuk dalam rombongan kesenian yang dikirim Bung Karno untuk belajar ke Tiongkok, Korea, dan Jepang. Sejak itu dia makin serius menjadikan musik tradisional sebagai jalan hidupnya.

Kemudian dia mengajar di ASKI yang kemudian menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo dan kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Almarhum pernah menjabat sebagai Ketua STSI Solo periode 1997-2002. Secara resmi, Supanggah menjalani purna tugas dari ISI Solo pada Agustus 2019 lalu, namun masih beberapa kali terlibat dalam bimbingan mahasiswa pascasarjana di kampus seni tersebut.

Populerkan Gamelan ke Inggris

Pada tahun 1987, Panggah memperkenalkan seni tradisi gamelan ke Inggris. Upaya itu membuahkan hasil, hingga terbentuk sebuah komunitas gamelan di Inggris bernama Southbank Gamelan London.

Salah seorang “muridnya” di Inggris, Cathy Eastburn, lantas menambah ilmu dengan belajar gamelan langsung ke Solo, sebelum akhirnya kembali ke Inggris.

Kemudian Cathy membawa gamelan kepada para narapidana di Inggris. Gamelan digunakan untuk terapi para narapidana. Musik gamelan yang lembut dianggap dapat memberi efek rasa tenang, dan teduh bagi mereka.

Panggah sangat dihargai di kalangan seniman musik tradisional dunia. Dia bergabung bersama grup kuartet instrumen gesek bernama Kronos asal Amerika Serikat. Dia juga sempat berkolaborasi dengan sejumlah seniman kenamaan, seperti Peter Brook, Toshi Tsuchitori, dan Sardono W Kusumo.

Dia telah mencipta lebih dari 100 buah karya. Di dalam negeri, dia dikenang lewat karya besarnya I La Galigo, karya sastra Bugis yang dipentaskan dalam bentuk teater. Pentas I La Galigo mulai digarap sejak 2001 dan baru dipentaskan secara perdana pada 2004 di Singapura dan kemudian digelar ke sejumlah negara lain.

Di bidang film, Panggah sempat bekerjasana dengan sutradara Garin Nugroho dalam penggarapan film Opera Jawa (2006) dan Setan Jawa (2016).

Komposisi musiknya untuk Opera Jawa (2006) arahan sutradara Garin Nugroho asal Indonesia memenangkan penghargaan Best Composer dalam Asian Film Award tahun 2007.

Penghargaan lain yang pernah dia terima adalah The Best Composer Hong Kong International Film Festival 2007. Sejak 2007 dia tercatat sebagai seniman tetap di Southbank Centre, London.

Tampil Sahaja

Meski namanya mendunia, namun Panggah tampil rendah hati. Sosoknya yang sederhana terlihat saat dia menyampaikan sambutan di hadapan hadirin usai pentas musik karawitan dan tari bertajuk Guyub di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Dalam pertunjukan di bulan September 2019 dan digelar khusus sebagai bentuk penghormatan untuknya itu, Panggah terlihat mulai melemah. Dia hanya mampu memberikan sambutan sambil duduk.

“Kalau saya kelasnya VIP. Karena memberi sambutannya dengan duduk,” katanya disambut tawa hadirin.

Saat itu, meski sudah pensiun sebagai guru besar di ISI Surakarta dan dihantui penyakit, Panggah mengaku masih akan terus berkarya. Kondisinya yang sakit sejak dua tahun sebelumnya, tak menjadi alasan untuk berhenti berkarya.

“Tidak masalah sakit, tetap harus berpacu dalam kekaryaan. Kalau sudah bermain dengan gamelan ini sudah lupa kalau sakit,” ujarnya. (nto)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed