by

Festival Retas Budaya Berakhir Hari Ini

-Budaya-25 views

Jakarta, Radar Seni – Dalam Festival Retas Budaya 2020 ada lebih dari 2.500 artefak kultural yang dibuka untuk masyarakat umum oleh 11 mitra institusi GLAM. Artefak-artefak ini tak hanya bisa diakses secara daring, tetapi juga dapat dimanfaatkan dengan cara-cara yang sebelumnya tidak terbayangkan. Itulah yang dimaksud penyelenggara dengan kata “retas” dalam nama festival yang disiarkan secara daring melalui YouTube Goethe-Institut Indonesien pada 6-8 November 2020.

Festival Retas Budaya mempertemukan institusi GLAM (galeri, perpustakaan, arsip, museum) dengan pelaku industri kreatif dan pegiat teknologi untuk menghasilkan kolaborasi dan inovasi dari data budaya terbuka. Selama 3 hari, festival daring ini akan menyajikan program seminar, lokakarya, dan gelar wicara yang menggali potensi data budaya terbuka di institusi budaya.

GLAM adalah singkatan dari Galleries, Libraries, Archives, Museums.

  • Galleries: galeri-galeri seni
  • Libraries: perpustakaan
  • Archives: arsip, dalam lingkungan perguruan tinggi dapat disebut juga repositori
  • Museums: museum

OpenGLAM berarti GLAM yang terbuka atau upaya-upaya untuk membuat koleksi yang ada dalam GLAM menjadi terbuka untuk publik.

Terbuka untuk publik ini bukan hanya berarti dapat dilihat dan dapat diunduh, tetapi juga dapat dicari, serta dibagikan dengan ketentuan HKI sedemikian rupa sehingga obyek tersebut dapat digunakan ulang (reuse).

Sejumlah peserta ditantang “meretas” data budaya terbuka untuk diubah menjadi cerita pendek, game, atau design remix. Partisipan dibagi ke dalam 4 jalur, yaitu Stories from Data, Games from Data, Open Design Remix, dan Citizen Science & Open Data.

Dalam Stories from Data, para peserta ditantang menulis cerita pendek yang diilhami oleh koleksi kultural terbuka. Sedangkan dalam Games from Data, peserta ditantang untuk memanfaatkan data kultural terbuka sebagai bagian game mereka. Dalam Open Design Remix,  para desainer grafis diminta menata ulang gambar-gambar dari arsip. Lalu jalur Citizen Science & Open Data ditujukan agar publik membantu riset ilmiah dengan menyumbangkan dokumentasi data kultural mereka.

Citizen Science & Open Data membuktikan bahwa para ilmuwan dan peneliti bisa memanfaatkan data untuk hasil penelitiannya. “Pandemi bikin peneliti nggak bisa bergerak terlalu jauh. Dengan adanya program Citizen Science and Open Data, kegiatan penelitian akan lebih mudah karena pengumpulan data bisa dilakukan masyarakat di lokasi,” ujar Hendro Subagyo, Kepala Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah LIPI.

Menurut Hendro, LIPI sebagai lembaga penelitian telah lama mulai melibatkan masyarakat dalam pengumpulan data. Ditopang dengan teknologi informasi yang ada, masyarakat dapat melaporkan hasil temuannya kepada peneliti.

Acara ini bekerja sama dengan Wikimedia Indonesia, Asosiasi Game Indonesia, Elex Media, LIPI, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, serta mitra media Harian Kompas LokadataID dan Siasat Partikelir. (ike)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed