by

Puisi-puisi Zab Bransah

-PUISI-9 views

Pulang I

 

Langkahku malam ini

merindukan kembali pada tanah kelahiran

jalan masih panjang menapaki diri

pada malam-malam yang makin menepi pada janji

menyambutku kembali.

 

Ingin rasanya kuteguk rindu

pelepas dahaga yang sudah begitu lama

mengembara masih adakah alamat itu;

masih adakah pematang sawah yang sering kita lalui saat itu

masih adakah harumnya bunga kupula,

adakah Zulia di persimpangan jalan

menungguku pulang.

 

Langkahku malam ini menepi

pada detak jantungku merindu

kembali bersamamu.

 

Aceh, 2010

 

Pulang II

 

Hari ini aku pulang

rindu pada tanah kelahiran

berucap salam karena sudah sekian lama

aku tinggalkan makin asing

bagi setiap yang lewat berjabat tangan.

 

Hari ini aku pulang

malu rasanya untuk bertemu,

sudah sekian lama tak kukabarkan berita baginya

mungkinkah hari ini aku singgah kembali?

 

Hari ini aku pulang

senja masih beri tanda padaku

bahwa malam akan tiba jalanan makin sepi.

 

Hari ini aku pulang,

semoga tak salah alamat!

 

Langsa,  2010

 

Kembalikan Serambi Padaku

 

Kulewati titi Pante Pirak,

air Krueng Aceh mengalir

penuh kedamaian

membawa ketenangan pada jiwa.

 

Kulewati jalan penuh pepohonan

melangkah ke arah kerinduan panggilan

yang selama ini memang asing bagi setiap orang

 

Kulewati Krueng Daroy,

anak-anak menari bersama ikan di dalamnya,

serambi memberi kesan padaku.

 

Aceh, 1980

 

Permohonan Tengah Malam

 

Diri amat rindu pertemuan dengan-Mu

menyibak lemah diri di hadapan-Mu

yang tak pernah menyiakan waktu,

ingat pada-Mu tiap saat.

 

Berserah diri pada-Mu adalah jalan

menuju kerinduan hakiki

meski kegelapan seringkali menghadang

pada tiap persimpangan.

 

Namun nama-Mu selalu terucap

dari bibir sampai ke lubuk hati

sebab diri adalah hamba yang sia-sia.

 

Langsa, 2011

 

Rinduku Pada Ramadhan

 

Rindu ini tiap waktu ingin bertemu denganmu;

bulan penuh pengampunan

bulan penuh rahmat.

 

Engkau telah dijanjikan untuk siapa

yang ingin kembali dari kelana sekian lama

lalu singgah pada dermaga indah,

sebagai kemuliaan.

 

Rinduku padamu;

pada ayat-ayat yang diperdengarkan malam hari

pada rukuk dan sujud

menggapai pahala yang dilipatgandakan.

 

(Langsa, 14 Juli 2011)

 

Zab Bransah adalah nama pena Zakaria Ali Basyah Bransah. Anak dari pasangan Ibu Siti Maryam dan Bapak Ali Basyah Bransah. Lahir pada 6 Juli 1964, di sebuah desa kecil Blang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Karya puisinya pernah dimuat media lokal dan nasional, antara lain: Waspada, Majalah Kartini, Aceh Post, Harian Aceh, Serambi Indonesia, Citra Aceh, Haba Rakyat, Lintas Gayo dan lain-lain. Karyanya juga terhimpun dalam sejumlah antologi bersama penyair Nusantara, antara lain Putroe Phang, Merengkuh Asa, Memintal Sayang, Pasie Karam, Aceh 6,4 SR, dan lain sebagainya.

Selain menulis, ia juga mengajar di MAN I Langsa, Universitas Samudera Langsa, IAIN Cot Kala, STAI Aceh Tamiang, UIT Aceh Tamiang, dan STKIP Getsempena Cabang Langsa. Pernah diundang pada Pertemuan Penyair 8 Negara di Banda Aceh 2016. Sekarang menetap di Kota Langsa, Aceh. ***

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed