by

Puisi-puisi Nasrullah Thaleb 

-PUISI-29 views

Dalam Kepulan Asap Tembakau

Dalam  kepulan asap tembakau seorang bidadari terbang

mengintari langit kamar, merayap telanjang di dinding

bibir merahnya menggoda sufi

melantun  syair-syair cinta

 

Langit kamar begitu dekat dengan kepala

namun matahari begitu jauh

hingga benci menengadah

tapi malas menunduk

 

Orang-orang berjalan dengan patah hati

di bawah lampu kota mereka menyingkap wajah berdebu

agar purnama ikut menikmati

wajah-wajah  muram  di taman kota.

 

Dalam kepulan asap tembakau  yang bergulung

menerka wajah bidadari

serupa takdir berpindah-pindah, mengangkut bawaan berat

para bidadari muak pada cinta

cinta sudah cemar, katanya

sedang asap tembakau masih dipercaya memabukkan.

 

(Lhokseumawe, 15 April 2018)

 

Di Sebuah Taman

Biarkan aku berbaring sebentar di rumput taman

sambil memandang bangku panjang

tempat sepasang kekasih tertawa bahagia

jemari jembatan kokoh harapan

 

Di taman sambil berbaring kadang aku menatap langit

hujan dan mendung meniup angin kenangan

tempat kita pernah muda

di bangku panjang di bawah angsana

 

Orang-orang harus pandai menjaga waktu

karena waktu yang paling dingin tangannya, bisikmu

kau kerap melantur tentang itu.

Di tangan waktu, aku terlepas

terdampar di ruang sepi

menunggu waktu ini segera pergi

menjemput waktu yang lain

menanti sejumlah kisah ini juga pergi

mengantar pada yang lain.

 

(Lhokseumawe, 12 Maret 2018)

 

Kata yang Kau Lewatkan

Dari kecil Ibu menuntun lidahku

yang lunak untuk menutur banyak kata

Aku selalu mengiring di belakang ucapannya

Tak ada habis rasa-rasanya kata itu

Kelak ia berdiri dalam sejarah

berbaris dalam sajak.

 

Ayo coba panggil, “Ibu.”

Aku pun memanggilnya Ibu

dalam yang nada patah.

 

“Kakak,” katanya lagi.

Aku mengucap Kakak.

“Nenek” Aku mengucap  Nenek.

Abang, katanya. Aku meniru kata Abang.

 

Saat aku banyak mengerti

pelangi  tetap sabit

melengkung manis di antara gerimis

Seekor elang bertengger di puncaknya

Elang jantan selalu lupa rumah, kata Ibu

dalam bahasa yang sulit kumaknai.

 

Seiring jalan, tak terbilang sudah kata

yang memenuhi rongga dadaku

semua kudengar, kuucap, kurasa

kupintal dengan sabar seperti sajak

seumpama anak itik yang berenang di kolam

 

Sesudah dewasa aku memahami

satu kata tidak pernah kudengar, kurasa, kuucap

Satu kata yang Ibu lewatkan, kata Ayah.

 

(Lhokseumawe, 08 April 2017)

 

Secangkir Kopi Bersamamu

Aku melihat bulan kembar

Menyusup lewat jendela

Ia bebas menjadi apa saja

Kecuali kamu.

 

Ketika kau acuh meninggalkanku

Telah kupetik bulan itu

Kuselip di balik bajuku

Bila kau merajuk

Kutenggelamkan bulan itu dalam kopiku.

 

(Lhokseumawe, 19 November 2017)

 

Semalam di Takengon

Gunung dan pohon membeku

kata-kata menjadi es, membatang di tepi Lut Tawar

napas kita naik-turun serupa kabut

yang merayap dari lembah menuju lereng

turun ke mata kaki.

 

Malam di Takengon ditemani secangkir kopi

para gadis terkurung dalam ruang rindu

gelisah di seberang perapian

malam telah turun dengan cepat dan pagi

tetap saja datang terlambat

sebab kabut mengadang perjalanan.

 

Di puncak gunung ini telah tumbuh kehidupan

bunga-bunga kopi telah mekar dan harum

gadis-gadis tersenyum mengejar hangat matahari siang

dan esok malam, bulan kembali beku.

 

(Takengon, 16 Mei 2018)

 

Nasrullah Thaleb lahir di Lhokseumawe. Karyanya berupa cerpen dan puisi dimuat berbagai media cetak dan online. Novelnya Rahmat dan Kambingnya memenangkan juara II pada lomba menulis novel anak Balai Bahasa Banda Aceh 2017. Novelnya Arian dan Naya masuk dalam naskah terpilih pada Sayembara Bahan Bacaan Literasi Badan Bahasa Kemendikbud 2018. Saat ini menetap di Gampong Blang Cut, Kec. Blang Mangat, Lhokseumawe.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed