by

Cerpen Joel Pasbar: Mei

-CERPEN-52 views

LAUT adalah tempat pulang segala sungai. Tak peduli kemarau begitu panjang sebagai jembatan, atau banjir bandang dengan keruh umpat dan makian. Tetap saja, muara sebuah gerbang paling pasrah menampung luapan luka dan cerita yang datang bersama musim. Barangkali demikian, perempuan bermata teduh menatap biru samudra di depannya. Cericit suara camar, deru mesin kapal boot, dan juga gelak tawa para pengunjung yang penuhi pulau kecil itu. Ada banyak riuh terekam di bawah terik matahari. Segala suasana yang pulang ke palung jiwa.

Sebatang ranting yang sedari tadi digenggamnya, perlahan ia goreskan pada pasir. Menulis apa saja. Dan sesekali berteriak, seakan ingin melepaskan sesuatu yang tersekat di jauh pikiran. Pada nanar pandangan, ia seolah melihat senyum seorang lelaki yang sering dijumpainya dalam lembar-lembar sunyi. Lelaki itu pernah mengajaknya membaca isyarat laut yang tenang menyulam riak. Menjaga ritme ombak. Atau sekadar menikmati cumbuan angin yang penuh gairah mengepakkan sayap-sayap kedamaian.

“Aaaaah!”

Perempuan itu membanting ranting di tangannya, lalu berjalan pelan ke bawah sebatang pohon rimbun di pinggir semenanjung. Dalam gontai langkah, ia tak pedulikan banyak mata yang mengintai. Menatap dengan sejuta tanya.

Di bawah pohon itu ingatannya kembali berlari pada lelaki yang selalu menyebut diri sebagai penikmat sunyi. Lelaki yang selalu mengajaknya tersenyum, bahkan saat hujan begitu lebat jatuh dari matanya. Lelaki itu selalu jadi payung peneduh hati.

“Hai, Juli. Mau minum? Pilih secangkir senyum atau rindu?” ucap seorang lelaki yang datang tiba-tiba.

“Ka … ka …,?” Perempuan itu tergagap, seakan tak percaya pada apa yang dilihatnya.

“Yee, jangan tegang gitu. Mari nikmati liburan ini.”

“Ta … tapi …,”

“Udah. Mari aku ajari membaca isyarat laut yang kujanjikan waktu itu.”

Perempuan itu merasa tidak percaya. Lelaki yang selalu mengajaknya tersenyum, kini bertemu dalam sebuah waktu dan tempat tak diduga. Mereka lalu bangkit dan berjalan menuju pantai. Di tangan mereka senyum dan rindu tergenang dalam cangkir kehangatan. Lalu, mereka menulis pasir dengan ranting yang dicampakkan musim, dan memungut cangkang kerang yang terbuang dari masa lalu. Sesekali perempuan itu menatap lelaki sunyi di sampingnya. Berbisik dalam hati sembari tersenyum menyaksikan debur ombak yang tenang. Berbeda dengan debar dadanya yang kencang, setiap kali mereka beradu pandang.

“Juli, buka tanganmu. Aku mau membaca setiap garis yang melengkung di sana,” ucap lelaki itu.

“Kayak peramal saja. He he,” kata perempuan betubuh kecil sambil menyodorkan tangannya.

“Hmm … menurut garis tangan, semalam kamu kurang tidur. Terus, dari pagi belum makan.”

“Lah, kok tahu? Emang bisa dilihat dari garis tangan?”

“Itu sih aku lihat dari mata kamu. Dan dari wajah kamu yang lemes, hi hi.”

“Jaiiiiiil … kirain beneran dilihat dari garis tangan.” perempuan itu tertawa lepas, seakan segala beban pikirannya hanyut terbawa ombak yang saling bersahut. Senyum mengembang bersama canda tawa bersama lelaki yang selama ini selalu setia menemaninya dalam setiap suasana.

“Hidup selalu punya cara untuk kita belajar memaknainya. Seperti alam, dari setiap guratannya tersimpan berjuta pelajaran. Gunung yang tinggi adalah tempat pulang bagi kabut, burung-burung, dan kesunyian yang selalu melipat diri. Begitu pun laut, Juli.” kata lelaki itu, menatap perempuan berwajah sendu di sampingnya.

“Bagaimana dengan laut?” Perempuan itu bertanya sambil menatap ombak yang tenang.

“Ya, laut juga menyimpan berjuta kisah dalam luasnya. Laut adalah simbol ketulusan. Di tubuhnya riak-riak bergelut bersama buih-buih. Menyulam debur pada pantai yang tabah memupuk kerinduan. Pernahkah pasir mengeluh? Tidak, Juli.”

“Aku ingin belajar tabah pada pasir.” ucap perempuan itu

“Aku ingin menjadi angin.”

“Kok angin?”

“Karena angin yang menitipkan rindu pada riak. Dan mencurahkannya pada basah pasir, tempatmu menampung temu dalam doa-doa. Ketika debur itu berlabuh, ia telah sampaikan rindu padamu. Rasa yang sejatinya tak berwujud, tapi mendenyut di kiri dadaku.”

Sepasang insan itu tersenyum. Memungut rimah luka yang berserak dalam ingatan. Lalu melemparkannya ke laut jauh. Laut yang sentiasa sabar merawat segala carut-marut; laut yang tak pernah jemu menjahit koyak setiap peristiwa.

“Mei …, Mei …, bangun. Sudah sore, mari kita pulang! Kok tiduran di sini? Rombongan sudah menunggu dari tadi.”  ucap seseorang, membangunkan perempuan itu.

“Ta …, tapi, lelaki itu memanggilku Juli.” ***

 

Joel Pasbar, lahir di Talamau, Pasaman Barat (Pasbar) Sumatra Barat, 03 Desember 1985. Dimulai karena hobi menulis di lembar-lembar diary semenjak masa sekolah, membuat sastra menjadi sebuah candu dalam dirinya. Lelaki penyuka hujan, kopi, dan sunyi ini tergabung dalam beberapa komunitas kepenulisan, seperti: Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Sastra Bumi Mandeh (SBM) Comunity Pena Terbang (KOMPETER) Indonesia, dll. Juga aktif di Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman dan Pasaman Barat.

Tulisannya berupa puisi, cerpen, dll. Pernah dimuat di beberapa media cetak ataupun online. Seperti Haluan, Kabar Madura, Neokultur, Kabar Pesisir, Radar Pagi, dan lain-lain. Juga dalam puluhan buku antologi bersama para sahabat. Pada 2017 awal menerbitkan buku antologi solo, kumpulan puisi Sajak-Sajak Sunyi (Filosofi Secangkir Kopi) Madza Publishing, Badung, Bali. ***

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed